Arkeologi Indonesia

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
HOME Articles Arkeologi Bahari Perdagangan dan Muatan Kapal Tenggelam

Perdagangan dan Muatan Kapal Tenggelam

E-mail Print PDF
Perdagangan merupakan transaksi jual beli barang yang dilakukan antara penjual dan pembeli di suatu tempat. Transaksi perdagangan dapat timbul jika terjadi pertemuan antara penawaran dan permintaan terhadap barang yang dikehendaki. Perdagangan sering dikaitkan dengan berlangsungnya transaksi yang terjadi sebagai akibat munculnya problem kelangkaan barang. Perdagangan juga merupakan kegiatan spesifik, karena di dalamnya melibatkan rangkaian kegiatan produksi dan distribusi barang (Heilbroner, 1968 dalam Nastiti, 2003).

Sejarah perdagangan di Indonesia sudah dimulai dari jaman prasejarah terbukti dengan ditemukannya nekara, manik-manik dan alat-alat logam lainnya yang menyebar dari Sabang hingga Merauke (Mahmud, 2002). Perdagangan tersebut terjadi karena adanya permintaan dari penduduk pribumi akan barang tersebut khususnya orang-orang yang dianggap terpandang atau mampu. Atau diperoleh karena adanya sistem persembahan yang biasa disebut dengan sistem resiprokal atau emperion. Sebagai contoh adalah manik-manik kaca Indo-Pasifik yang menyebar di seluruh kawasan Indonesia hingga Pasifik merupakan bukti nyata terjadinya perdagangan antar bangsa dan lebih meningkat berkat adanya hubungan maritim yang dilakukan dengan menggunakan kano atau perahu sejenisnya ( Bellwood, 2000).

Berdasarkan bukti-bukti yang ada, perdagangan antar bangsa semakin meningkat ketika memasuki awal masehi, karena sudah ditemukan pemukiman dan pelabuhan di daerah pesisir sehingga memudahkan dalam pendistribusian barang-barang yang diinginkan. Temuan gerabah Arikamedu dari India di Situs Pacung - Bali Utara merupakan bukti kuat adanya perdagangan antar bangsa yang melibatkan saudagar asing di beberapa wilayah di Indonesia pada awal masehi (Ardika, 1991).

Lokasi yang sangat stategis bagi Indonesia karena terletak pada jalur persilangan lalu lintas perdagangan dunia maka semakin membuat padat jalur perdagangan maritim di kawasan Asia Tenggara. Kondisi ini memunculkan kerajaan-kerajaan besar dengan pelabuhan laut yang besar pula. Sebut saja Kerajaan Sriwijaya, Samudra Pasai, Melayu, Singasari, Majapahit, Mataram, Gowa-Tallo hingga Demak Bintoro memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi pedagang-pedagang asing dan nusantara. Adanya pelabuhan laut tersebut maka mendorong arus distribusi barang berlangsung sangat cepat. Sehingga kebutuhan barang ekspor dan impor semakin meningkat pesat. Barang-barang dagangan yang merupakan komoditi ekspor antara lain: garam, merica pala, adas, cengkeh, kayu gaharu, kayu cendana, damar, kapur barus, gula tebu, pisang, pinang, kapuk, kelapa, gading gajah, kulit penyu, kain sutra dan kain katun. Sedangkan komoditi impor yaitu: kain sutra, payung sutra, pedang, nila, lilin, belanga besi, piring, mangkuk, keramik cina, warangan, tikar pandan, merica, pala, kapur barus, gading, emas, perak dan tembaga (Wheatley, 1959). Barang tersebut diperjualbelikan antar pedagang nusantara dan juga pedagang asing yang memasuki perairan nusantara.

Pedagang yang terbesar berasal dari Cina dan Timur Tengah. Mereka menukarkan produk bawaan seperti keramik dengan hasil bumi nusantara khususnya pala dan wewangian yang merupakan komoditi perdagangan terlaris. Permintaan keramik dalam jumlah besar oleh masyarakat lokal merupakan kesempatan yang bagus dalam menjalin tali perdagangan antar bangsa ini. Peningkatan akan barang mewah terbesar terjadi pada masa Kerajaan Majapahit abad XIV yang dipenuhi sutera dan porselin dari Cina. Bahkan dikirim utusan khusus dengan gelar arya atau patih untuk melakukan perdagangan diplomatik dengan Cina. Perdagangan tersebut meningkat lebih pesat lagi ketika ada misi perjalanan Cina yang dipimpin Zheng He (Cheng Ho) yang diutus oleh Kaisar Yongle dari Dinasti Ming untuk memperluas pengaruh Ming di luar perbatasan Cina yang berlangsung antara tahun 1405 - 1433 M (Wade, 2002). Misi tersebut akhirnya memunculkan kota-kota pelabuhan di sepanjang pantai utara Pulau Jawa yang terbentuk akibat adanya perdagangan, sehingga menambah ramai arus perdagangan di nusantara pada abad XV. Ramainya perdagangan dan kebutuhan akan rempah, akhirnya memaksa bangsa-bangsa barat melakukan pelayaran sendiri untuk menemukan sumber rempah. Bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda merupakan bangsa Eropa yang mampu menguasai dan melakukan monopoli rempah-rempah di nusantara pada abad XVI - XIX sehingga membesarkan nama Batavia sebagai kota pelabuhan terbesar di Asia.

Besarnya arus perdagangan dan kondisi lingkungan di tambah dengan dinamika perkembangan politik menyebabkan banyak kapal-kapal dagang tersebut yang tenggelam di tepi pantai atau tengah samudra. Tenggelamnya kapal tersebut disebabkan karena adanya unsur kesengajaan dan unsur ketidaksengajaan. Unsur kesengajaan disebabkan adanya penyerangan kapal dagang yang tidak mau bersandar atau membayar pajak pelayaran (upeti) di kerajaan yang dilalui, sebagai contohnya adalah kapal-kapal Cina yang melalui Kerajaan Melayu, Aceh, dan Sriwijaya. Penyerangan yang dilakukan oleh bajak laut Cina di Selat Malaka terutama semenjak runtuhnya Kerajaan Sriwijaya dan pudarnya pelabuhan-pelabuhan dagangnya. Penyerangan kerajaan-kerajaan lokal dalam usaha merebut benteng dan pelabuhan-pelabuhan besar seperti Batavia, Malaka, Maluku, dan Ternate-Tidore yang dikuasai oleh bangsa Belanda, Portugis, dan Spanyol. Unsur ketidaksengajaan disebabkan oleh faktor cuaca yang buruk seperti badai laut, terhantam karang penghalang atau bocornya kapal muatan.

Data kapal tenggelam dengan muatan barang dagangan sudah dapat terdeteksi di sebagian wilayah Indonesia. Temuan-temuan tersebut antara lain di perairan Pulau Ambon, perairan Pulau Bali, Selat Bangka dan Gaspar, perairan Laut Jawa, perairan Halmahera, Kepulauan Riau, Selat Sunda dan perairan Selat Malaka (Pramono, 2005). Kapal tenggelam tersebut memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi baik pada saat kapal tersebut sedang beroperasi yaitu dengan muatan barang dagangan antar bangsa dengan mutu terbaik dan setelah kapal tersebut sudah menjadi bangkai kapal yang tenggelam di lautan jika memuat barang dagangan yang yang memiliki nilai jual yang tinggi di jaman sekarang, misalnya emas, perak atau keramik.

Pada akhirnya, perdagangan nusantara dengan bangsa-bangsa asing meninggalkan suatu bukti kejayaan perdagangan maritim di Indonesia dengan adanya temuan muatan kapal tenggelam yang memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. Kondisi ini memaksa pemerintah tentang perlu adanya perlindungan dan penanganan yang sangat ketat di lokasi yang telah diketemukan, sehingga tidak terjadi lagi aksi pencurian harta karun di bawah air.

Perkiraan daerah-daerah penemuan kapal tenggelam:
1. Daerah dekat pelabuhan. Daerah ini rawan karena sering terjadi tabrakan kapal dan banyaknya kapal yang tidak terkendali. Contoh: Banten, Cirebon, Tegal dan Batavia.
2. Daerah dengan arus kencang dan memutar sehingga kapal sulit dikendalikan sebagai contoh adalah Selat Makasar dan Pelabuhan Cilacap.
3. Daerah terumbu karang penghancur yang tidak terlihat mengakibatkan kapal mudah terdampar dan karam. Contoh di Kepulauan Seribu dan Kepulauan Riau.
4. Daerah dengan bajak laut yang ganas. Sebagai contoh adalah Selat Malaka yang keberadaannya ada semenjak kemunduran Kerajaan Sriwijaya dan pudarnya pelabuhan sebagai pusat perdagangan.
5. Daerah peperangan laut. Contoh: Teluk Ambon, utara Jepara, Utara Batavia (Jakarta) dan utara Tuban.


Daftar bacaan:

Ardika, I Wayan. 1991. "Archaeological Research in Northeastern Bali Indonesia". Unpublished. Ph.D Thesis. Canberra: Australian National University.

Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Edisi Revisi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Mahmud, M.Irfan. 2002. "Askripsi Keindonesian dalam Jaringan Nasional" dalam Tradisi, Jaringan Maritim dan Sejarah Budaya: Perspektif etnoarkeologi - Arkeologi Sejarah. Ed. M.Irfan Mahmud, et al. Lembaga Penerbitan Universitas Hasanudin. Makasar.

Nastiti, Titi Surti. 2003. Pasar di Jawa pada Masa Mataram Kuna Abad VIII - IX Masehi. PT. Dunia Pustaka Jaya. Jakarta.

Pramono, Djoko. 2005. Budaya Bahari. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Wade, Geoffrey. 2002. "Pertumbuhan Perdagangan Cina" dalam Sejarah Modern Awal. Buku Antar Bangsa. Jakarta.

Wheatley, Paul. 1959. "Geographical Noteson some Commodities involved in Sung Maritime Trade" dalam JMBRAS. Vol. 32. Singapore.
 

Add comment


Security code
Refresh

Random Image

Who's Online

We have 36 guests online

Guestbooks

06-02-2012 Lipitor
Hello! lexapro, cheapest generic lipitor.
06-02-2012 Amoppysmoft
Quick Weight Lose Pills , http://www.cheapmeridiaonline.com/ - generic meridia And if you have any ... readmore
06-02-2012 Dxvbxvnlhn
In rare instances, men kamagra online order kamagra buy cheap compelling PDE5 inhibitors (enunciated... readmore
06-02-2012 Ylkyzcmajy
In rare instances, men buy online kamagra buy kamagra online fascinating PDE5 inhibitors (vocal buy ... readmore
06-02-2012 Hancick
generic cialis online no prescription ... readmore

Comments

05-02-2012Generic Cialis
Ilmuwan Gali Makam 'Mona ...
http://levitraexpresspharmacy.com uses for levitra generic drugs Levitra generic levitra 20mg isosor... readmore
04-02-2012Cialis
Ilmuwan Gali Makam 'Mona ...
http://accutaneexpress.com tanning beds for sale accutane Isotretinoin accutane pharmacy cystic acne... readmore
03-02-2012Cialis
Ilmuwan Gali Makam 'Mona ...
http://phenterminetips.com/ no prescription 30 mg cheap phentermine buy phentermine buy phentermine ... readmore
02-02-2012cialis prix
Ilmuwan Gali Makam 'Mona ...
http://cialisfarmaciait.com/ cialis generico lilly viagra cialis generico cialis 5 mg specifico http... readmore
01-02-2012Payday Loans Online
Ilmuwan Gali Makam 'Mona ...
http://paydayloansonlinetips.com/ virginia beach payday loans payday loans online ace payday advance... readmore
RSS