Masjid Bayan Belik atau Bayang Agung, yang terletak 80 kilometer arah timur laut Kota Mataram, adalah masjid yang tak biasa. Sebab tidak semua orang Islam bisa salat di masjid yang diperkirakan dibangun pada abad ke-17 itu.
"Hanya para kiai kagungan, yaitu kiai adat, yang salat di masjid itu," kata pemangku adat Karang Salah di depan masjid itu, Raden Gedarip, 64 tahun, yang bertugas sebagai pemomong gademan (gundem adat Bayan) atau juru bicara majelis adat, kepada Tempo pada Sabtu lalu.
Menurut Gedarip, kiai adat itu di antaranya pengulu, yang bertugas sebagai imam salat; ketip sebagai khatib; lebe sebagai muazin, yang mengumandangkan azan tanpa pengeras suara; modin (tukang sunat); raden; dan santri keturunan kiai adat.
Masjid yang termasuk cagar budaya itu hingga kini tak berpenerang listrik meski daerah di sekitarnya sudah dialiri listrik. Sejak dulu, masjid itu menggunakan obor kecil dari bambu dengan sumbu terbuat dari lilitan getah jarak dan kapuk.
Sejak 3 Agustus lalu, masjid itu digunakan untuk salat tarawih oleh para pemuka adat wetu telu se-Kecamatan Bayan.
Mereka berasal dari Kepenguluan Bayan, yakni 44 kiai dari Bayan, Senaru, Segenter, Loloan, Barung Birak, Semokan, Sukadana, Sesalut, Sesait, Sembagik, dan Gumantar.
Kesan kuno juga tampak dari pakaian yang dikenakan para kiai saat salat tarawih, yakni baju putih dari kain rejasa, besapuk (ikat kepala) putih, kain panjang kereng belo batik atau biasa disebut londong abang, dan sabuk dodot rejasa. Mereka juga menggunakan musela (sajadah) dengan warna dominan putih, digradasi dengan warna biru dan kuning dari kain tenunan adat Bayan.
Dalam komunitas kiai itu ada yang disebut kiai kagungan (pejabat yang dilantik), mulai kiai pengulu, kiai lebe, ketip, sampai modin. Yang terpilih sebagai kiai kagungan selama 5 tahun tidak boleh melepas bolot (ikat kepala bulat warna putih).
Masjid itu terletak di ketinggian sekitar 7 meter dari tanah di bawahnya. Bentuknya segi empat dengan luas 100 meter persegi. Dinding dan atapnya terbuat dari bambu yang dipecah-pecah atau disebut santek. Keempat sudut atapnya menggunakan ijuk untuk menutup sambungan. Di pucuknya ada simbol bunga teratai yang belum mekar.
Keunikan lainnya, di dalam masjid ada beduk yang digantung. Lantainya masih berupa tanah yang dipadatkan, lalu ditutup dengan tikar anyaman. Pintu masuknya setinggi 1 meter, sama dengan tinggi dinding masjid. Di luar sebelah kiri pintu, ada gentong air untuk mencuci kaki.
Menurut Kerti Murti, juru pelihara kawasan cagar budaya itu, masjid yang berada di area seluas 1,67 hektare tersebut dikelilingi enam makam. Makam itu adalah makam Karang Salah, Sesait, Pengulu, Anyar, Pelawangan, dan Rea (besar atau makam induk). Makam Rea ini merupakan tempat dikuburnya penyebar agama Islam pertama di Lombok yang tak diketahui namanya.
Bayan Belik kini menjadi saksi bisu para penyebar Islam di Mataram.
Sumber: tempointeraktif.com










Comments
RSS feed for comments to this post.