Arkeologi Indonesia

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
HOME Articles Arkeologi Kesejarahan Kerajaan Amanatun di Timor Tengah Selatan

Kerajaan Amanatun di Timor Tengah Selatan

E-mail Print PDF
1. Sejarah dan Asal-Usul
Kerajaan Amanatun (Onam) adalah salah satu peradaban tertua yang ada di Timor Tengah Selatan. Pada masa pendudukan kolonial Belanda, Timor Tengah Selatan dikenal dengan nama Zuid Midden Timor hingga pada akhirnya diganti dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi provinsi setelah negara Republik Indonesia resmi berdiri. Selain Amanatun, dua kerajaan besar di Timor adalah Kerajaan Belu dan Kerajaan Mollo. Ketiga kerajaan ini masih terikat persaudaraan sedarah.

Syahdan, di zaman kuno, ada tiga bersaudara yang tiba di Timor. Ketiga saudara ini, masing-masing bernama Tei Liu Lai, Kaes Sonbai, dan Tnai Pah Banunaek, kemudian sepakat untuk menjelajahi pulau Timor. Pada akhirnya, penjelajahan mereka membuahkan hasil dan berdirilah tiga kerajaan besar sebagai wujud wilayah yang masing-masing telah mereka kuasai. Tei Liu Lai mendirikan Kerajaan Belu, Kaes Sonbai menguasai wilayah Kerajaan Mollo, sedangkan si bungsu Tnai Pah Banunaek memimpin Kerajaan Amanatun

Nama “Amanatun” berasal dari kata “Ama” dan “Mnatu”, yang berarti "Bapak" dan “Emas". Sedangkan penyebutannya sebagai nama kerajaan disebabkan karena Raja Tnai Pah Banunaek sangat gemar mengenakan busana dan perhiasan dari emas. Kerajaan yang beribukota di Nunkolo ini merupakan kerajaan yang terletak paling selatan di wilayah Timor Tengah Selatan. (Banunaek, 2007: 3).

Mulanya, Kerajaan Amanatun hanya meliputi wilayah-wilayah kecil, termasuk Noebone dan Noebanu, atau yang dulu disebut juga sebagai wilayah Anas. Anas merupakan sebuah wilayah di bawah kuasa Dinasti Nesnay. Berdasarkan Gouvernement Besluit (Keputusan Pemerintah Hindia Belanda) No. 2 Tahun 1913, Anas bergabung dengan wilayah Timor Tengah Selatan dan menjadi distrik dari Kerajaan Amanatun.

Mengenai riwayat Kepulauan Timor sendiri sudah tersurat sejak tahun 1350. Catatan dari Tiongkok yang ditulis oleh Dao Zhi (hidup pada era Dinasti Sung) menyatakan bahwa kala itu Timor memiliki beberapa gerbang pelabuhan laut yang ramai, salah satunya adalah di Batumiao-Batumean Fatumean Tun Am (Tun Am). Bandar Tun Am ini menjadi pusat transaksi dagang dan dikunjungi para pedagang dari Makassar, Malaka, Jawa, Cina, India, serta Arab. Bahkan, orang-orang Eropa dari Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda, kemudian ikut berniaga di bandar ini.

Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511, baru sepuluh warsa kemudian Portugis tiba di Pulau Timor. Tercatat dalam arsip lama bahwa pada 22 Januari 1522, Magalhaens Pigafenta berlabuh di Pantai Selatan Pulau Timor dan mengunjungi Raja Amanatun. Pada 1669 Raja Amanatun mulai berhubungan dengan Vereeniging Oost Compagnie (VOC), maskapai perdagangan dari Belanda.

Selain kepentingan ekonomi, bangsa-bangsa Eropa juga mengemban dua misi lain, yaitu memperluas tanah jajahan dan menyebarkan agama Nasrani. Arsip kuno Portugis Summaria Relaçam do Que Obrerao os Relegiozas dan Ordem dos Pregadores menyebutkan bahwa pada 1641, bala tentara Portugis yang berangkat dari Larantuka, Flores, berhasil tiba di wilayah Kerajaan Amanatun (www.wikipedia.com).

Ketika itu misionaris Nasrani Portugis yang dipimpin Frey Lucas da Cruz berhasil mengkristenkan Raja Amanatum beserta keluarga istana. Raja Amanatum mau memeluk agama Kristen karena tentara Portugis bersedia membantu Kerajaan Amanatun dalam menghadapi serangan dari Kerajaan Gowa-Tallo yang kala itu sudah memeluk Islam.

Pada 11 November 1749, Belanda dan Portugis terlibat perebutan tanah jajahan di Timor, konflik ini dikenal sebagai Perang Penfui. Kerajaan Amantun berdiri di belakang Portugis karena tidak setuju dengan rencana Belanda yang ingin membagi wilayah di Timor meski pada akhirnya Kerajaan Amanatun jatuh juga ke dalam cengkeraman kapitalisme Belanda yang berhasil mengalahkan Portugis.

Dalam catatan arsip VOC yang ditulis Arnoldus van Este tahun 1758, disebutkan bahwa Raja Amanatun adalah salah satu raja yang berkuasa di Timor. Raja Amanatun yang dimaksud dalam arsip yang kini disimpan di Denhaag itu disebut sebagai Don Louis Nay Konnef of Amanatun. Nama penguasa Amanatun lainnya yang juga disebut di dalam arsip-arsip VOC lainnya adalah Raja Bab‘i Banu Naek.

Upaya penyatuan beberapa kerajaan yang ada di wilayah Timur Tengah Selatan dalam suatu wilayah administratif mulai tampak sejak dekade kedua abad ke-20. Pada 1920, Kota Soe ditetapkan menjadi ibukota Zuid Midden Timor atas kesepakatan bersama dari ketiga raja yang berkuasa di sana. Ketiga raja itu antara lain Raja Lay Akun Oematan (Kerajaan Molo), Raja Pae Nope (Kerajaan Amanuban), dan Raja Kolo Banunaek (Kerajaan Amanatun).

Meski selalu berada di bawah penindasan kolonial, beberapa kali Kerajaan Amanatun melakukan percobaan perlawanan terhadap penjajah. Raja Amanatun bergelar Raja Muti Banunaek II yang memerintah pada kurun 1900-1915 pernah diasingkan ke Ende, Flores, pada 1915.

Raja Muti Banunaek II dibuang ke Ende karena tidak mau takluk kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sang raja yang pemberani ini tinggal di tanah pembuangan hingga akhir hayatnya, Raja Muti Banunaek II wafat di Ende pada 1918.

Setelah Indonesia merdeka, Kerajaan Amanatun bersama Kerajaan Molo dan Kerajaan Amanuban membentuk Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan ibu kota Soe, yang sekarang termasuk ke dalam wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

2. Wilayah Pemerintahan
Sedari mula, batas-batas dan wilayah kerajaan di Timor Tengah Selatan sudah diatur dan dibagi oleh tiga raja besar yang berkuasa di sana, yaitu Raja Tei Liu Lai (Kerajaan Belu), Kaes Sonbai (Kerajaan Mollo), dan Tnai Pah Banunaek (Kerajaan Amanatun). Untuk menjaga persaudaraan di antara mereka, ketiga raja ini mengangkat sumpah untuk menjaga jalinan saudara dan saling menghormati batas-batas wilayah kerajaaan masing-masing. Mereka bertiga juga berjanji untuk tidak saling menyerang. Apabila ke depannya terjadi perubahan batas wilayah maka ketiga raja ini akan mengadakan pertemuan untuk membahasnya dan kemudian merumuskan kesepakatan baru.

Adapun keseluruhan wilayah dari ketiga kerajaan itu meliputi Tun Am, pesisir Laut Timor, Wehali, Betun, Fainu, Maubesi, Mutis, hingga Nasimetan. Sedangkan Kerajaan Amanatun sendiri memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut: bagian utara (Maubesi) berbatasan dengan wilayah Kerajaan Mollo, bagian timur berbatasan dengan wilayah Kerajaan Belu, bagian selatan (Maubesi, Betun) berbatasan dengan laut, dan bagian barat (Mutis) berbatasan dengan sungai Noemina dan Laut Selatan. Pengembangan wilayah kerajaan dari masa ke masa hingga kini masih tetap mengacu pada pola pembagian wilayah yang sudah ditetapkan oleh ketiga Raja.

3. Silsilah Raja-Raja
Berikut nama raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Amanatun:
1. Raja Tnai Pah Banunaek
2. Raja Tsu Pah Banunaek
3. Raja Nopu Banunaek
4. Raja Bnao Banunaek I
5. Raja Nifu Banunaek
6. Raja Kili Banunaek
7. Raja Bnao Banunaek II
8. Raja Nono Luan Banunaek
9. Raja Bnao Banunaek III
10. Raja Bnao Banunaek IV
11. Raja Bab‘i Banunaek
12. Raja Bnao Banunaek V atau Raja Bnao Nunkolo (1766)
13. Raja Kusat Muti atau Raja Muti Banunaek I (1832)
14. Raja Loit Banunaek (1899)
15. Raja Muti Banunaek II (1900-1915)
16. Raja Kusa Banunaek (1916-1919)
17. Raja Kolo Banunaek atau Raja Abraham Zacharias Banunaek (1920-1946)
18. Raja Lodoweyk Lourens Don Louis Banunaek atau Raja Laka Banunaek (1946-1965)

Raja Lodoweyk Lourens Don Louis Banunaek atau Raja Laka Banunaek adalah raja terakhir yang memerintah Amanatun semasa masih berwujud kerajaan. Setelah Amanatun menjadi bagian dari NKRI, keturunan Raja Amanatun masih dianggap sebagai pemimpin. Penerus Raja Laka Banunaek adalah Raja Gustaf Banunaek yang oleh warga setempat lebih dikenal dengan nama atau Raja Gia Banunaek.

4. Kehidupan Sosial-Budaya
Kelompok suku yang paling dominan di dalam struktur sosial masyarakat Amanatun adalah suku Missa, selain suku-suku lain yang lebih kecil jumlahnya seperti suku Tkesnai, suku Amafnya, suku Nai Usu, dan lain-lainnya. Populasi penduduk Kerajaan Amanatun relatif tinggi. Tahun 1870, misalnya, tercatat jumlah penduduk Kerajaan Amanatun sudah melebihi angka 12.000 jiwa (www.wacananusantara .org).

Kehidupan sosial dan masyarakat Kerajaan Amanatun terbilang cukup makmur. Sumber pemasukan kerajaan adalah dari hasil produksi jagung, cendana, dan lilin. Setengah hasil dari produksi cendana dan lilin ditukarkan dengan emas. Cendana memang merupakan komoditi paling menjanjikan di wilayah Timor.

Pamor kayu cendana dari Timor sudah mendunia. Kedatangan Portugal, Spanyol, Inggris, dan Belanda ke tanah Timor awalnya juga dalam rangka mencari pusat produksi kayu cendana berkualitas tinggi.

Bangsa-bangsa Eropa mengetahui bahwa Timor merupakan daerah penghasil kayu cendana dari catatan Cina. Mereka melacak tulisan-tulisan Cina yang menyebutkan bahwa di Tiwu (Timor) sangat kaya akan kayu cendana. Bahkan, saking berharganya, cendana sering digunakan sebagai upeti untuk dpersembahkan kepada raja. (www.ireyogya.org).

Melalui pelabuhan Oekusi (Lifau) dan Dili (Timor Leste), Portugis berhasil menemukan bandar dagang kayu cendana. Mulanya, digunakan sistem barter dalam transaksi perdagangan antara Portugis dengan penduduk lokal, cendana ditukar dengan emas sebelum diganti dengan uang perak sebagai alat penukar. Sebutan uang ringgit panasmat, atau yang lazim digunakan di kalangan masyarakat Amanatun berasal dari nama uang ringgit Spanyol, pasmat.

5. Sistem Pemerintahan
Sistem pemerintahan yang berlaku di Kerajaan Amanatun tidaklah kekal, sering berganti-ganti seiring perubahan zaman dan kondisi perpolitikan. Tidak banyak diketahui secara detail mengenai sistem pemerintahan di Kerajaan Amanatun, tetapi yang jelas, pemerintahan di Kerajaan Amanatun seringkali terpaksa harus mengikuti kebijakan dari pemerintah kolonial yang menguasai wilayah kerajaan itu, dari Portugis, Belanda, hingga pada zaman pendudukan Jepang. Ketika Negara Republik Indonesia terbentuk pun Kerajaan Amanatun kemudian melebur dan menjadi bagian dari negara kesatuan tersebut, kendati tidak lagi berupa kerajaan yang semi-otonom.

Kerajaan Amanatun sudah mempunyai sistem pemerintahan yang teratur dan sistematis, seperti pembagian wilayah administratif yang menurun dari raja hingga ke pemerintahan tingkat desa. Dalam salah satu babakan pemerintahannya, Kerajaan Amanatun pernah memiliki fettor, wilayah administratif yang membawahi beberapa kelompok masyarakat. Empat fettor tersebut antara lain Noebana, Noebone, Noemanumuti, dan Noebokong.

Pemimpin dari keempat fettor ini masing-masing adalah Nokas (pemimpin Noebana), Kobi Nitibani (pemimpin Noebone), Fai (pemimpin Noemanumuti), serta Nenometa (Noebokong). Di bawah fettor terdapat kelompok-kelompok masyarakat kebanyakan yang disebut to aana atau kolo manu. Kelompok-kelompok masyarakat ini berada di bawah pimpinan temukung yang diangkat langsung oleh raja.

Namun setelah Kerajaan Amanatun berada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, kekuasaan raja pun dibatasi, begitu juga dengan wilayah-wilayah kerajaan. Kerajaan Amanatun, sebagai salah satu dari beberapa kerajaan yang berada di tanah Kepulauan Timor, pun harus takluk kepada kebijakan kolonialisme Belanda yang membagi Timor menjadi beberapa daerah kekuasaan kerajaan.

Ada beberapa kontrak politik yang pernah ditandatangani oleh raja-raja Amanatun dengan pemerintah Hindia Belanda kendati banyak di antaranya yang berlangsung alot dalam memperoleh kesepakatan. Kontrak politik atau korte veklaring antara Kerajaan Amanatun dan pemerintah kolonial Hindia Belanda tersebut antara lain:

  1. Korte veklaring tertanggal 27 Juli 1908, ditandatangani oleh Raja Muti Banunaek pada 14 april 1909.

  2. Korte veklaring tertanggal 22 Agustus 1910, ditandatangani oleh Raja Muti Banunaek pada 14 Juni 1913.

  3. Korte veklaring tertanggal 30 September 1916, ditandatangani Raja Kusa Banunaek pada 23 oktober 1917.

  4. Korte veklaring tertanggal 27 April 1921, ditandatangani oleh Raja Kolo Banunaek pada 21 Februari 1923.

Kontrak-kontrak politik ini selalu dibuat sesuai dengan kebutuhan pemerintah kolonial Belanda di mana posisi raja-raja Amanatun selalu di pihak yang lemah dan dirugikan. Ketika Belanda menyerah kalah kepada Jepang pada 8 Maret 1942, seluruh wilayah kekuasaan Hindia Belanda diambil-alih oleh pemerintahan militer Jepang. Pemerntahan Jepang di wilayah Indonesia bagian timur berada di bawah kekuasaan Kaigun dan berpusat di Makassar. Khusus wilayah Indonesia Timur-Sunda Kecil-Nusa Tenggara dipimpin oleh Minseifu Cokan di Singaraja, yang di dalamnya terdapat dewan perwakilan yang mewakili raja-raja.

Pascakemerdekaan Indonesia, Raja Laka Banunaek, yang menjadi raja terakhir Kerajaan Amanatun, memutuskan untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 1951.

Setelah menjadi bagian NKRI, pusat pemerintahan Amanatun dipindahkan ke Kota Oinlasi dan hingga kini menjadi ibukota Kecamatan Amanatun Selatan. Bentuk pemerintahannya pun berubah dari kerajaan menjadi daerah swapraja. Raja Laka Banunaek menjadi Kepala Daerah Swapraja Amanatun pertama. Jika di tengah-tengah pemerintahan sang raja meninggal dunia, maka sebagai penggatinya diangkatlah seorang Wakil Kepala Daerah Swapraja dari keturunan bangsawan.

Pemimpin Kerajaan Amanatun bersama dengan raja-raja lainnya yang tergabung di dalam Dewan Raja-Raja ikut berperan penting dalam pembentukan Provinsi NTT di mana sebelumnya wilayah ini termasuk ke dalam Provinsi Sunda Kecil. Pemerintah Indonesia sendiri yang kala itu masih berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) telah menguatkan berdirinya NTT dengan beberapa perkembangan kebijakan. Terakhir, melalui UU No. 69 Tahun 1958, terbentuklah daerah Swatantra Tingkat II di Nusa Tenggara Timur dengan 12 Kabupaten.

5. Agama dan Kepercayaan
Sebelum agama Nasrani yang dibawa orang-orang/misionaris Portugis disebarkan, penduduk Timor, termasuk warga Kerajaan Amanatun, masih berkeyakinan kepada suatu kepercayaan akan adanya Dewa Langit atau Uis Neno yang dinggap sebagai pencipta alam dan pemelihara kehidupan di dunia. Beberapa ritual upacara yang ditujukan kepada Uis Neno terutama bermaksud untuk meminta hujan, sinar matahari, mendapatkan keturunan, kesehatan, dan kesejahteraan (anakgununglakaan.blogspot.com).

Orang Timor juga percaya kepada Dewa Bumi alias Uis Afu, juga sering disebut sebagai Dewi Uis Neo. Upacara yang ditujukan kepada Dewi Uis Neo adalah meminta berkah bagi kesuburan tanah yang sedang ditanami. Di samping itu, masyarakat Amanatun juga mempercayai adanya makhluk-makhluk gaib yang mendiami tempat-tempat tertentu, seperti di hutan, mata air, sungai, dan pohon yang dianggap keramat. Ritual-ritual untuk menyucikan makhluk-makhluk gaib itu sering dilakukan dengan dipimpin oleh pejabat desa sekaligus pemuka adat.

Penduduk asli Amanatun juga percaya kepada roh-roh nenek moyang yang dianggap mempunyai pengaruh yang luas kepada jalan hidup manusia. Berbagai malapetaka yang datang dinilai sebagai tindakan atau peringatan dari arwah leluhur terhadap mereka yang telah lalai dan berbuat jahat.

Meskipun agama Kristen yang dibawa Portugis pada akhirnya secara formal telah diterima dan dipeluk oleh sebagian besar dari penduduk Timor, namun sebagian besar dari mereka masih percaya akan adanya dewa-dewa, makhluk-makhluk halus, roh nenek moyang, dan percaya akan ilmu sihir. (Iswara NR/Kr/1/05-09)

Referensi:
-------, “Kebudayaan Timor”, tersedia di www.anakgununglakaan.blogspot.com, data diunduh pada 18 Mei 2009.

-------, “Kerajaan Amanatun”, tersedia di www.wacananusantara.com, data diunduh pada 18 Mei 2009.

-------, “Kerajaan Amanatun”, tersedia di www.wikipedia.com, data diunduh pada 18 Mei 2009.

-------, “Provinsi Nusa Tenggara Timur”, tersedia di www.docstoc.com, data diunduh pada 20 Mei 2009.

Don Yesriel Yohan Kusa Banunaek, Raja-raja Amanatun yang Berkuasa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Mefi Hermawati dan Poppy S. Winanti, “Timor dalam Perspektif Sejarah”, tersedia di www.ireyogya.org, data diunduh pada 20 Mei 2009.




Sumber: http://melayuonline.com/
 

Comments  

 
#11 2013-10-11 02:08
kita lihat saja kisah yg asli akan segera muncul.....
saya masih lacak dokumen dari belanda.... dokumen yg sebenarnya tentang raja timor.... !!! hati2 mengarang cerita untuk mengklaim diri raja... bukti sejarah ada tidak??? tahun brapa??? jangan hanya dengar orang omg kosong kalian buat situs...
 
 
#10 2013-10-04 10:18
sekarang rakyat biasa mau jadi raja karena pendidikan,hart a,politik, agama, ekonomi,sosial .
 
 
#9 2013-03-10 16:48
pengetahuan yang berharga...
terimakasih...
 
 
#8 2012-11-07 03:42
Saya sangat bersyukur kepada dinas perhubungan dan informasi kab TTS, karena sudah membantu kami untuk mencari info dengan cepat lewat internet
 
 
#7 2012-02-27 10:12
tidak masalah karena tulisan bernilai sejarah juga untuk aktualisasi diri daripada gak pernah ada. Ternyata yang namanya 'raja' dengan klaim wilayah 'kerajaan' bahkan bekasnya tinggal tiang-tiang yang lapuk gak ada artinya lagi.
Siapa saja mau dikukuhkan menjadi raja hehehehehe raja saja Mau dibikin apa lagi tu raja
 
 
#6 2011-01-20 11:00
Saya orang Timor Barat, dan menurut pengamatan saya, hampir setiap suku mengklaim dirinya adalah raja pertama di Timor. Cape, dehh!
 
 
#5 2010-12-15 21:10
Pertanyaan saya sederhana saja di t4 mn saja Timor ini dibg jd dua yaitu Timor Barat (bhs dawan :manse saen; Tetun Loro Sae) dan Timor Barat (bhs dawan :manse mofun/tesan; bhs tetun Loro Monu) dan siapa pencetus (pimpinan/Raja) yang membagi Timor ini dan adakah isi perjanjian pada saat pembagian (perutusan) u/ mengembara
 
 
#4 2010-12-15 21:04
Fakta sejarah tidak bisa dimanipulasi oleh siapapun karena ketika di manipulasi maka turunan Raja (palsu) kehidupannya akan jadi rakyat jelata dan menurut saya sebelum ada konferensi orang Timor untuk mengakui kedudukan siapa-siapa yang menjadi Raja di Timor sesuai kisah penciptaan maka khusus orang Timor asli jangan bermimpi jadi pimpinan apa saja (contoh Timor Barat: Gubernur, Timor Leste : Presiden dan Perdana Menteri) karena alam tidak merestui, sebab pengingkaran janji
 
 
#3 2010-11-19 16:13
Sekaranng dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan maka banyak orang yang tidak jelas asal usulnya karena telah menjadi serjana berusaha untuk memanipulasi sejarah dengan mencoba memasukan cerita cerita mitos yang sarat subjektifitas untuk memutar balikan sejarah. Tetapi kebenaran sejarah tak bisa diputar balikan oleh segelintir orang yang tidak puas. Bermunculan cerita cerita orang tua yang tak bertanggung jawab perlu diwaspadai sehingga tidak menyessatkan generasi mendatang.
 
 
#2 2010-10-27 18:37
saya mengharapkan suatu kejejalan tentang kerajaan amanatun, semoga setiap tulisan yang saya temukan dapat memberi kejalasan tentang amanatun. pada saat ini banyak orang yang menganggap dirinya sebagai raja amanatun, siapa raja sebenarnya?
 

Add comment


Security code
Refresh

Random Image

Who's Online

We have 91 guests online

Comments

22-09-2014By ilhamutomo
Situs Gua Hunian Pra Seja...
Fungsi pada masa sekarang ? readmore
20-09-2014By jusair
Erasmus Gelar Pameran Kar...
Mohon info bagaimana mendapatkan buku itu di indonesia?adakah toko buku impor yg jual? readmore
10-09-2014By Mahisa Medari
Jejak Mangir, Jejak Pemb...
ada kemungkinan lain tentang kematian ki ageng mangir..karena jika dipikir, meskipun panembahan seno... readmore
07-09-2014By Sukamto
Bisnis Uang Lama Menguntu...
Mau jual koleksi uang kuno gambar pak Karno keluaran tahun 1964 nomnal 1.000 dan 100 rupiah readmore
07-09-2014By Sukamto
Bisnis Uang Lama Menguntu...
Mau jual koleksi uang kuno gambar pak Karno keluaran tahun 1964 nomnal 1.000 dan 100 rupiah readmore
06-09-2014By ThomasKn
The Elephant Cave (Goa Ga...
hiwassee mental health cleveland tn viagra online st alphonsus medical group readmore
02-09-2014By admin
The History of Java - Tho...
coba cari di Gramedia... buku ini termasuk buku yang laris, keluar langsung habis readmore
01-09-2014By mashudi
The History of Java - Tho...
gan bisa di download ga/ atau dimana sy bisa dapatkan buku ini readmore
29-08-2014By cak supri
Logo Surabaya Salah Kapra...
gak usah eker ekeran mergo lambang utowo logo wes jarno ae logo koyok ngono tapi kudu di tegesi nek ... readmore
28-08-2014By #faqih
Candi Agung Peninggalan M...
qta rakyat pedesaan qta haus akan sejarah cagar budaya candi agung. MPPMT terjunlah langsung ksni ? ... readmore
RSS