Salatiga adalah sebuah kota yang memiliki catatan sejarah cukup panjang. Salah satunya adalah tempat terjadinya perjanjian Giyanti. Salatiga dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat dari Jogjakarta kira-kira 2 jam lamanya. Kota Salatiga termasuk salah satu kota yang memiliki banyak babngunan-bangunan peninggalan Belanda. Kegiatan ini diikuti oleh 8 orang dengan didampingi 1 dosen pembimbing yaitu Widya Nayati. Kunjungan ke Kota Salatiga ini kami lakukan dalam rangka menyelesaikan tugas akhir semester mata kuliah Manajemen Sumber Daya Arkeologi.Tujuan pertama kami di Salatiga adalah sebuah bangunan bergaya eropa, pusat perbelanjaan yang bernama Taman Sari Shopping Centre. Sebenarnya bangunan ini bukanlah termasuk ke dalam bangunan peninggalan Belanda. Tetapi karena letak dari bangunan ini yang berada di kawasan Pecinan maka akan timbul kejanggalan. Mengapa bangunan bergaya eropa bisa berdiri di kawasan Pecinan? Bukankah hal ini akan mengaburkan identitas kawasan tersebut? Menurut keterangan dari Mbak Wiwi’ (Widya Nayati) Salatiga saat ini sedang berusaha untuk membangun identitas dari daerahnya.
Lokasi kunjungan kami yang kedua adalah sebuah Kelenteng Tridharma yang bernama Hok Tek Bio yang terletak tidak jauh dari tujuan pertama. Kelenteng ini juga masih berada di kawasan Pecinan. Kelenteng Hok Tek Bio ini merupakan tempat peribadatan 3 aliran kepercayaan yaitu Tao, Kong Hu Cu, dan Buddha. Masing masing dari 3 aliran kepercayaan ini memiliki lambangnya masing-masing. Secara fisik kelenteng yang di cat dengan warna merah sebagai lambang kesuksesan terlihat sangat terawat. menurut pengakuan penjaganya, kelenteng ini telah berusia 130 th yang berarti didirikan kurang lebih pada tahun 1872.
Kelenteng Hok Tek Bio ini telah mengalami beberapa penambahan pada bangunannya. Bangunan yang bentuknya masih asli terdapat tepat di depan pintu gerbang masuknya (Gb 3). Bangunan ini merupakan bangunan utama tempat pemujaan terhadap Dewa Bumi. Kegiatan-kegiatan perawatan bangunan dan unsur-unsur yang terdapat didalamnya, rutin dilakukan oleh penjaga kelenteng ini, sehingga kelestarian dari Kelenteng Hok Tek Bio ini tetap terpelihara.Kemudian kami mengunjungi sebuah gereja di jalan Letjend Sukowati tepat di depan gedung kantor Walikota Salatiga. Gereja ini bernama GKJT (Gereja Kristen Jawa Tengah), bangunan ini menurut sepengetahuan pengurusnya diresmikan tahun 1934, sehingga diperkirakan pembangunannya telah dilakukan sebelum tahun peresmiannya. Gereja ini masih menunjukkan wajah aslinya baik di luar maupun di dalam. Tetapi sekitar tahun 1980-an telah terjadi pergeseran pada Mimbar gereja ke arah belakang dengan tujuan memperluas ruang ibadah bagi jemaat yang mulai bertambah banyak. Kemudian diketahui pula kalau dulunya gereja ini hanya diperuntukkan bagi para misionaris asing dan orang-orang asing yang bukan berasal dari kalangan pemerintahan.
Secara fisik bangunan ini sangat terawat hanya saja pada beberapa dinding gereja ini terdapat retak-retak yang cukup panjang. Menurut pengakuan dari pengurus, retak-retak tersebut disebabkan karena efek gempa jogja dan upaya konservasi dari instansi yang berwenang tidak pernah dilakukan, bahkan pengurus gerejanya saja baru mengetahui tentang instansi yang bertugas untuk mengawasi kelestarian benda-benda peninggalan sejarah. Kegiatan perawatan dan pemeliharaan rutin dilakukan secara mandiri oleh para pengurus gereja mulai dari perawatan harian maupun berkala.
Selain gereja GKJT ini masih ada satu gereja lagi yang terhimpit diantara dua bangunan yang menjulang tinggi di kiri-kanannya. Gereja ini bernama GPIB (Gereja Protestan Indonesia Barat), gereja ini terlihat sangat kecil dari luar dan memiliki halaman yang tidak begitu luas. Tetapi sayang, saat kami berkunjung kesana tidak terdapat satu orang pun di sana sehingga kami tidak bisa melihat-lihat dalam gereja. Selanjutnya kami menyusuri jalan Dipenogoro, disepanjang jalan ini terdapat bangunan-bangunan rumah yang masih asli bentuk dan fungsinya. Ada juga bangunan yang masih asli bentuknya tetapi telah beralih fungsi, bahkan ada yang bentuk dan atau fungsinya telah berubah. Bangunan yang masih asli bentuknya yaitu rumah dan sekarang telah berubah fungsinya menjadi toko pakaian Factory Outlet (FO) terlihat pada gambar 8. Kemudian kami melihat sebuah bangunan komersil yang membuat kami tertarik karena diperkirakan ditempat tersebut dulunya adalah sebuah rumah yang memiliki semacam menara pada bagian kanannya. Tetapi kini hanya tersisa bagian semacam menaranya saja dan digunakan untuk tempat Anjungan Tunai Mandiri (ATM), sementara bagian rumahnya telah di robohkan untuk membangun gedung bertingkat dua (2) seperti yang terlihat pada gambar.
Selain bangunan-bangunan yang telah diuraikan diatas, masih banyak lagi bangunan lain yang menarik perhatian kami sekaligus membuat kami harus kecewa karena sebagian besar bangunan yang tidak terawat bahkan terabaikan tetapi ada juga yang membuat kami senang karena adanya kepedulian dari pemilik untuk menjaga keaslian bentuk bangunan. Kegiatan ini juga sekaligus untuk memberitahukan kepada pemilik bangunan mengenai hak-hak dan kewajiban yang harus dilakukan selaku pemilik bangunan.======================
Artikel kiriman dari Ska Cute ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )










Comments
SALATIGA HATI BERIMAN,,,,,,ja ngan sanpai ada bentrokan" seperti wilayah" luar salatiga...............
RSS feed for comments to this post.