Decak kagum rombongan pelajar akan kokoh dan uniknya benteng pertahanan raja-raja Gowa pada abad ke-16 merupakan hal rutin setiap liburan sekolah. Ketakjuban mereka teralamatkan pada Fort Rotterdam, salah satu obyek wisata sejarah primadona di Makassar, Sulawesi Selatan.
Ucapan ”wow” biasanya terdengar manakala rombongan anak-anak berseragam sekolah menyusuri dinding benteng setebal 2 meter. Terbayang dentuman meriam terarahkan pada kapal-kapal Belanda yang mencoba merapat ke Pantai Losari.
Di balik balutan lumut, konstruksi benteng yang dibangun tahun 1545 itu menampakkan keunikan tersendiri. Bila dilihat dari atas, bentuknya menyerupai penyu, lengkap dengan empat kaki di empat sudutnya. Itu sebabnya benteng ini dijuluki Benteng Pannyua (penyu).
Dulu, dari Pantai Losari setiap orang bisa leluasa melihat benteng ini. Kini, pemandangannya sudah sesak. Bangunan benteng terimpit di antara rumah penduduk dan gedung perkantoran. Dinding benteng yang terbuat dari batu kini diselimuti lumut dan lapuk dimakan usia. Beberapa bagian merekah dan rontok, termasuk ruang tempat Pangeran Diponegoro ditawan Belanda tidak terurus.
Sebagai obyek wisata, sebetulnya tidak banyak yang ditawarkan dari 15 gedung di dalam kompleks benteng ini selain Museum La Galigo. Di areal seluas 2,5 hektar itu, pengunjung hanya menghabiskan waktu dengan memotret arsitektur gedung maupun berpose dengan latar belakang bangunan kuno.
Sejarawan Edward Poelinggomang mengungkapkan, Fort Rotterdam sudah waktunya dibenahi sebagai landmark Kota Makassar.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2010 untuk merevitalisasinya. Dengan anggaran Rp 134 miliar, proyek itu mencakup relokasi bangunan di sekeliling benteng, rekonstruksi dinding benteng, hingga pemanfaatan gedung di dalam kompleks.
Daniyal Daraba, Kepala Bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan Dinas Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sulsel, mengungkapkan bahwa proyek ini bertujuan agar Fort Rotterdam bisa menjadi ikon pariwisata dan pengembangan kesenian.
Revitalisasi mengusung konsep penataan taman kota masa kini, tetapi sekaligus yang menonjolkan kejayaan sejarah masa silam. ”Gedung-gedung yang ada di dalam kompleks benteng akan dimanfaatkan sebagai penginapan, toko penjual cendera mata, dan panggung serba guna untuk pertunjukan kesenian,” ujar Daniyal.
Tahun ini, Pemprov Sulsel berancang-ancang untuk merobohkan tiga gedung di sekitar benteng, yaitu Gedung RRI, Gedung Veteran, serta Gedung Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel. Gedung pengganti sudah disiapkan di sekitar kantor gubernur dengan anggaran Rp 79,6 miliar. Rencana penataan permukiman warga di sisi timur benteng menyusul tahun selanjutnya.
Fort Rotterdam dulunya bernama Benteng Ujung Pandang. Pembangunannya dirintis oleh Raja Gowa IX dan rampung pada pemerintahan Raja Gowa X tahun 1545. Benteng ini menjadi bagian dari rangkaian 14 benteng yang mengelilingi Benteng Somba Opu. Somba Opu merupakan pusat Kerajaan Gowa.
Benteng ini jatuh ke tangan Belanda melalui Perjanjian Bungaya pada 1667. Kala itu pasukan Belanda yang dipimpin Laksamana Cornelis Speelman memaksa Kerajaan Gowa menyerah. Jadilah benteng ini berganti nama menjadi Fort Rotterdam, sebagai pengingat kota kelahiran Speelman. Selanjutnya benteng ini menjadi pusat penampungan rempah-rempah dari kerajaan-kerajaan Nusantara di belahan timur.
Hati-hati
Menurut Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar Andi Muhammad Said, pihaknya sebagai pengelola benda cagar budaya pada dasarnya sepakat bahwa Fort Rotterdam harus direvitalisasi.
Namun, penanganannya harus berhati-hati dan melibatkan kalangan arkeolog karena obyek ini merupakan situs bersejarah.
Dia mengharapkan agar pemugaran itu tidak merusak nilai historis dari Fort Rotterdam. Bila tidak memiliki konsep revitalisasi yang menyeluruh, proyek tersebut justru tidak bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Sejarawan Sulsel, Suryadi Mappangara, menuturkan, pemugaran benda cagar budaya memang dimungkinkan asal melibatkan arkeolog. Contohnya, pemugaran Benteng Somba Opu tahun 1990-an berhasil merangkai kembali bagian-bagian benteng yang rusak. ”Pemugaran jangan serampangan tanpa melibatkan arkeolog,” kata Suryadi berharap.
Riwayat benteng itu kini dipertaruhkan antara revitalisasi dan konservasi cagar budaya.
Didit Putra Erlangga Rahardjo
Sumber: http://cetak.kompas.com/










http://levitraexpresspharmacy.com uses for levitra generic drugs Levitra generic levitra 20mg isosor... readmore