Klenteng merupakan salah satu bangunan suci keagamaan yang biasanya digunakan oleh umat Tri Dharma (Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme). Istilah ”klenteng” oleh sebagian orang dianggap berasal dari luar Indonesia. Namun, sebenarnya istilah ini asli dari Indonesia. Istilah ”klenteng” diambil dari suara lonceng yang berbunyi pada saat menyelenggarakan upacara. Hal ini juga dibenarkan oleh pengurus Klenteng Tien Kok Sie, bahwa istilah ini memang benar dari Indonesia.
Pada awalnya, istilah asli tempat ibadah ini bukan klenteng, kuil, atau tempat ibadah tridharma melainkan bio atau miao sebagai istilah yang paling kuno. Bio mempunyai arti sebagai tempat penghormatan dan kebaktian kepada Nabi Khong Cu Bio.
Sebagaimana layaknya tempat ibadah, klenteng juga memiliki tata cara keagamaan. Tapi pada dasarnya, tata cara tersebut tetap berlandaskan ajaran Konghucu. Hal ini terjadi karena awal mula tumbuhnya klenteng berada di dalam lingkungan masyarakat yang memeluk Konghucu.
Secara umum, klenteng merupakan bangunan suci Tri Dharma (Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme). Sebutan klenteng berubah menjadi wihara pada tahun 1965. Hal ini terjadi sebagai imbas dari situasi politik yang terjadi pada saat itu. Kondisi ini juga memberi imbas pada klenteng Tien Kok Sie. Namun setelah Setelah pemerintahan Gus Dur, kebebasan beragama membawa angin segar pada pemeluk Tri Dharma. Klenteng yang semula sepi, kini telah ramai kembali oleh umatnya.
Klenteng Tien Kok Sie (Rumah Ibadah Memuja Awalokiteswara)
Bangunan Klenteng Tien Kok Sie ini berada di Jalan Pasar Besar Ketandan (Pasar Gede) 63 Solo. Klenteng ini pada awalnya berada di Kartasura yang kemudian pindah ke Solo dan kemudian didirikan bersaman dengan pembangunan Kraton pada tahun 1745. Dengan demikian, umur bangunan Klenteng pada saat ini telah mencapai 253 tahun.
Klenteng Tien Kok Sie secara keseluruhan menempati lahan seluas ±250 m². Klenteng ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu ruangan pelataran depan, Ruang Thia, Ruang Sien Bing dan bangunan rumah tangga penjaga klenteng.
Ruang Thia dan Ruang Sien Bing merupakan ruang pemujaan. Dalam ruang pemujaan terdapat beberapa altar dan meja untuk persembahan kepada dewa.
Klenteng Tien Kok Sie pada awalnya dibangun untuk rumah ibadah golongan Cina pribumi keluarga kraton. Sistem kepenguruan klenteng menurut narasumber adalah secara turun temurun dari awal klenteng ini dibangun. Hingga saat ini, kepengurusan sudah sampai pada generasi ke–3. Namun, pengurus pada generasi ini merasa kewalahan untuk mengurus. Selanjutnya, pengurus generasi ke– 3 ini meminta bantuan kepada Yayasan Sangha. Adapun susunan kepengurusan tersebut adalah sebagai beikut:
Ketua : Tio Sing Tjiang
Bendahara : Tio Sing Tjong
Pengurus harian klenteng : Sie Hok Nio
Klenteng Tien Kok Sie ini seperti layaknya bangunan klenteng yang lain, juga memiliki ciri khas dalam hal bentuk bangunan maupun arsitektur, termasuk ornamen-ornamen di dalamnya.
Kondisi di sekitar Klenteng ini hampir selalu ramai setiap harinya. Hal ini karena faktor lokasinya yang terletak di sekitar kompleks Pasar Gede Solo. Di depan klenteng setiap harinya dilewati oleh ratusan kendaraan, bahkan di depan pintu masuk klenteng dijadikan tempat parkir mobil dan motor. Di sebelah kanan-kiri bangunan ini klenteng juga dipenuhi bangunan toko. Bangunan toko ini memiliki ketinggian bangunan yang melebihi tinggi klenteng, sehingga seolah-olah klenteng Tien Kok Sie ini terhimpit oleh bangunan di sekitarnya dan mengurangi nilai kesakralannya sebagai tempat ibadah.
Atas keputusan pemerintah, klenteng ini masuk dalam daftar Benda Cagar Budaya ( BCB). Para pengurus klenteng hingga saat ini belum pernah mengganti bentuk klenteng, hanya saja ada penggantian cat yang telah usang. Yang sangat disayangkan, keberadaan bangunan di kanan kiri klenteng. Bangunan tersebut dibangun menjulang tinggi melebihi tinggi klenteng.
Sumber: http://archeologievanindie.multiply.com/










http://levitraexpresspharmacy.com uses for levitra generic drugs Levitra generic levitra 20mg isosor... readmore