Kehadiran Etnik Tionghoa di Makassar menambah keberagaman budaya. Terlebih dengan adanya bangunan khas berarsitektur Tionghoa.
Seperti Klenteng Ibu Agung Bahari yang merupakan klenteng tertua di Makassar. Klenteng yang dibangun pada 1736 oleh Ong Giap, Kapitan Tionghoa kala itu, menjadi salah satu saksi sejarah Makassar.
Klenteng yang terletak di pusat kota Makassar, tepatnya di sebelah barat poros Jl Sulawesi ini awalnya bernama Klenteng Istana Ratu Laut. Seperti namanya dalam bahasa Tionghoa, Thiang Hoo Kian yang berarti Istana Ratu Laut. Namun pada 1750, namanya berubah menjadi Klenteng Ibu Agung Bahari oleh Thio Heng Sioe.
"Selain peralihan nama, klenteng ini juga dipugar dan mengubah arah bangunannya menghadap ke Timur (gunung) oleh Kapitan Lei Lu Cong pada 1754," kata Rinawati Idrus, salah seorang budayawan Sulsel, saat ditemui.
Pemugaran terus dilakukan sampai dilakukan perbaikan seluruh bangunan pada 1805 dan dilakukan pembangunan ruang sembahyang dan pintu bagian kiri dan kanan klenteng. Usai pembangunan, juga dibuatkan prasasti nama-nama para penyumbang oleh Kaisar Thong Cie setelah naik tahta enam tahun. "Prasasti ini diletakkan di sebalah Selatan klenteng yang diperintahkan oleh Kaisar Kangsi. Dalam prasasti ini memberikan keterangan bahwa Kapten Thoeng Hoo Tjeng, Letnan Yo Hwae Giok, Auwyong, Fong Beng, The Djoe Hong, Thoeng Liong Hoei, dan lainnya sebagai dermawan pemugaran klenteng," ujarnya.
Sementara itu, pemberian nama kleteng ini berasal dari Nama Dewi Laut, Ma Co Po yang selalu memberikan perlindungan bagi orang Tionghoa yang sering berlayar di lautan lepas. Dewi Laut ini juga dikenal dengan julukan sesuai dengan keistimewaan dan kelebihannya, yakni Wanita Suci di Atas Langit, Wanita Sakti yang Murah Hati, Ratu dari Langit memberi pertolongan, dan Permaisuri Surgawi.
"Namun karena di Indonesia berlaku persyaratan untuk mengindonesiakan semua istilah, maka nama klenteng juga di Indonesiakan menjadi Klenteng Ibu Agung Bahari," jelasnya.
Di depan klenteng, setiap umat yang masuk akan disambut dengan dua patung singa yang menjaga pintu disebelah kiri dan kanan. Singa batu ini terdiri dari singa jantan dan betina dengan tinggi 85 cm dan berukir. Singa batu ini juga membawa bola dan selendang berwarna merah.
"Setiap klenteng sebenarnya memiliki sepasang singa batu di pintu gerbangnya. Patung ini menunjukkan lambang kekuatan agung dan megah, keberanian, dan ketabahan. Selain itu, juga bermanfaat untuk mencegah masukknya pengaruh jahat," tambahnya.
Sedangkan pintu klenteng ini bertipe p'ai-lou dengan ukuran yang cukup lebar karena di bagian kiri dan kanannya diberi tambahan tembok dan terdiri dari 1, 3, 5, dan 7 pintu kecil. Daun putih seluruhnya berwarna dasar merah dengan hiasan sepasang lukisan panglima perang.
"Di daratan Tionghoa dikenal dua jenis pintu gerbang, yakni p'ai-lou dan p'ai-fong. Segi ukurang memang p'ai-lou lebih besar dibanding p'ai-fong yang hanya mempunyai satu pintu saja," jelasnya.
Satriani
Sumber: http://www.ujungpandangekspres.com/










Comments
RSS feed for comments to this post.