Klenteng Kwang Kong merupakan klenteng yang berasal dari keturunan Suku Kang Tong yang masuk ke Indonesia jauh sebelum abad 17.
Awal hadirnya klenteng ini dari perkempulan suku Kang Tong yang merupakan keturunan pekerja, mulai tukang batu, kayu, sampai tukang besi. Tahun 1875, klenteng yang awalnya hanya bangunan rumah berlantai satu ini direnovasi menjadi gedung dua lantai.
Seperti yang diceritakan Ketua Yayasan Klenteng Kwang Kong, Kusdiagung Gosal, kepada Upeks, saat ditemui di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu. "Saat itu, renovasi dilakukan bergantung kondisi klenteng dan kemampuan pengurus dan donatur. Renovasi dilakukan minimal dua tahun sekali dan terakhir pada tahun 2006. Setelah itu, hanya dilakukan pemeliharaan bangunan sekali dalam setahun, berupa pengecetan dan pemelihaan ornamen," tambahnya.
Di lantai pertama klenteng dipergunakan untuk tempat persembangan sedangkan lantai dua untuk ruang pengurus yayasan klenteng. Ornamen pertama di klenteng ini dibawa oleh pendatang awal dari suku Kang Tong di Cina yang akan bekerja di Indonesia. Ornamen ini terus bertambah dari para penyumbang atau pengurus yang hidupnya sudah sukses atau mapan.
Dalam klenteng, ornamen utama yaitu patung Dewa Kwang Tong dan terdapat sepuluh patung pendamping. Dewa yang dipercayai sebagai jenderal perang yang satria dan bersifat adil. Kepengurusan klenteng ini dipengang yayasan yang ada sejak 1986. Jumlahnya pun hanya terdiri dari beberapa orang namun kini telah berjumlah 60 orang.
"Para pengurus pun berasal dari keturunan Suku Kang Tong saja. Ini karena ini, klenteng ini merupakan milik nenek moyang suku itu. Pada jaman orde baru, klenteng ini terancam keberadaannya karena di rezim Suharto, kepercayaan Thionghoa tidak diakui keberadaanya di Indonesia," ujar Kusdiagung.
Namun tidak ada perintah penutupan, sehingga klenteng ini menjadi klenteng yang dapat bertahan tanpa harus mengganti nama aslinya. Untuk mengurusi klenteng ini dan bakti sosial, dibentuk yayasan. Selain pengurus yayasan, dibentuk juga pengurus sembahyang yang berjumlah 11 orang.
Pimpinan pengurus sembahyang dipilih melalui pengundian nama dan bertugas selama satu tahun kepengurusan. Pengurusnya tidak hanya berasal dari suku Kang Tong saja tapi bisa dari semua suku Tiong Hoa. Kegiatan persembayangan arwah di klenteng ini biasa dilaksanakan setiap tanggal 14 bulan tujuh penanggalan Tionghoa atau Agustus tahun Masehi.
Pada kegiatan ini akan terkumpul sumbangan berupa beras sebanyak empat sampai lima ton yang akan dibagikan ke fakir miskin, panti asuhan, dan rumah sakit kusta. Penyembayangan ini dilakukan pada pagi dan malam hari sedangkan pembagian berasnya akan dilakukan setelah lima hari kemudian.
Selain itu, juga dilakukan sembayang Cumbeng atau Cemming setiap bulan tiga penanggalan Tiong Hoa atau bulan April Tahun Masehi. Sembayang ini berupa penghormatan dan kegiatan ziarah kubur. Tapi klenteng ini tetap buka setiap hari dan pada tanggal 1 dan 15 setiap bulan penanggalan Tionghoa dan tanggal kelahiran Dewa akan banyak pengunjung untuk bersembayang.
Satriani
Sumber: http://www.ujungpandangekspres.com/










Saya punya 1 lembar uang 50 sen tahun 1964 uang koin kuno NEDERLANDSCH INDIE 2 1/2 CENT TAHUN 1945 D... readmore