Medan, - Situs sejarah Kota China yang terletak di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, terancam punah. Lantaran lahan penggalian situs tersebut kini telah dikuasai developer atau pengembang perumahan sudah mendahului Pemerintah Kota (Pemko) Medan.
Kepala Pussis Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr Phil Ichwan Azhari mengatakan, sekira tiga hektare dari situs bersejarah tersebut telah beralih tangan dari masyarakat kepada pengembang. "Untuk itu, kami meminta kepada Pemko Medan untuk segera membebaskan lahan tersebut agar bisa diteliti lebih lanjut," kata Ichwan di Medan, Senin (20/2).
Dikatakannya, arkeolog dari Ofeo Perancis, Daniel Perred bekerja sama dengan Pusat Arkeologi Nasional Jakarta, Balai Arkeolog Medan dan Pussis Unimed melakukan eskavasi atau penggalian sejak 5 Februari hingga 23 Februari mendatang di situs sejarah tersebut. Ada ribuan benda bersejarah yang berhasil diangkat, antara lain pecahan keramik dan tembikar asal China dan negara-negara lain, manik-masik asal India Selatan, Uang Kuno China abad 13, tulang belulang, kaca kuno serta sejumlah benda-benda budaya bersejarah. "Eskavasi ini merupakan tahun kedua yang dilakukan Ofeo Perancis," ungkapnya.
Hasil eskavasi ini menguatkan bukti bahwa bagian Utara Kota Medan menyimpan jejak kota internasional kuno abad 12 hingga 13 Masehi yang terus menjadi perhatian peneliti nasional maupun internasional.
Menurut Ichwan, saat Syaiful Bahri yang kini menjabat sebagai Sekda Kota Medan masih menjabat sebagai Kepala Bappeda Medan, Pemko Medan dalam hal ini Bappeda beberapa kali berkunjung ke situs sejarah tersebut, bahkan sudah mengganggarkan pembebasan lahan penduduk pada 2010. Tapi pembebasan lahan itu gagal lantaran harga yang diminta masyarakat tidak sesuai dengan yang dianggarkan pemerintah.
Selanjutnya, pada 2011 pemerintah tidak lagi menganggarkan pembebasan lahan tempat situs itu berada. Imbasnya, saat ini lahan tersebut telah jatuh ke tangan pengembang. "Kami sangat mengharapkan Syaiful Bahri bersama Kepala Bappeda sekarang serta pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan untuk meninjau kembali situs ini dan segera membahas mengenai pembebasan lahan," harapnya.
Sementara itu, Daniel Perred khawatir jika lahan tersebut tidak segera dibebaskan, bukan tidak mungkin situs bersejarah tersebut akan musnah sebelum diteliti. "Berbeda dengan perhatian ilmuwan atas warisan sejarah ini, Pemko Medan tampaknya belum juga membebaskan lahan ini untuk diteliti," ungkapnya.
Lokasi situs dekat kotak galian temuan-temuannya, dekat dengan struktur bangunan candi kini telah jatuh ke tangan pengembang dan sudah dikapling untuk dijual. Bahkan sudah ada pengembang yang mulai membangun perumahan di sekitar kawasan itu. "Tampaknya pemerintah terlambat menyelamatkan situs ini, padahal selain sebagai lumbung ilmu pengetahuan, situs ini juga berpotensi dalam bidang pariwisata," pungkasnya.
Sumber: medanbisnisdaily.com










Comments
RSS feed for comments to this post.