Tak kenal maka tak sayang. Pepatah ini tepat untuk karya seni budaya warisan leluhur berupa tosan aji atau keris. Betapa tidak? Karya satu ini begitu indah dan anggun. Bagi kolektor, berapa pun harganya akan dikejar, karena telanjur menyayanginya.
Tapi, tanpa kita peduli, lama-lama bisa punah. Kini, hasil kerajinan karya seni ini sering kita jadikan suvenir, termasuk untuk tamu mancanegara, karena merupakan karya orang Jawa yang memiliki filosofi dan makna yang dalam.
Namun, lepas dari itu, kerajinan membuat perabot keris, terutama pendok dan warangka, masih terus digeluti warga RT 5/RW V Kelurahan Kratonan, Kecamatan Serengan, Solo.
Ya, kampung yang terletak di belakang kantor kelurahan ini, merupakan sentra pengrajin pendok dan warangka. Pada gang-gang kampung, beberapa orang tampak tekun mengukir atau menatah tembaga maupun kuningan untuk dijadikan pendok. Begitu lembut, halus dan rumitnya motif yang mereka bikin.
Memasuki gang kampung, dari sebelah timur Kantor Kelurahan Kratonan, di jalan kampung ini, tepatnya di bawah gardu pos ronda (yang dibangun di atas jalan), ada pengrajin yang memanfaatkan tempat teduh ini untuk mengerjakan pendok. Dialah Mulyadi, 35, warga setempat.
Pendok, menurut dia, adalah perabot pusaka, sebagai aksesoris utama keris, sekaligus sebagai penutup warangka (tempat menyelipkan bilah keris). Warangka itu kayunya, pendok sebagai penutup warangka. Pendok inilah yang diukir, dibuat nyeni agar keris lebih indah dan tampak wibawa.
Di kampung ini, Mulyadi memelopori kerajinan pendok, sejak 15 tahun silam. Awalnya dia berguru pada almarhum Cokrosuryo, mantan dosen STSI (sekarang ISI-red) yang dikenal sesepuh dan ahli pendok. Cokrosuryo juga mengajari pengrajin lain. Tapi, Mulyadi termasuk yang menularkan ke sejumlah saudaranya. Oleh karena itu adiknya, Mulyono, juga beberapa saudara lain seperti Suparno dan Aris, mengikuti jejaknya.
Untuk kerajinan pendok, di kampung ini Mulyadi sebagai ahlinya. Sedangkan untuk warangka, Sriyono ahlinya. Hasil karya Mulyadi dikenal halus. Dia mampu melakukan pekerjaan serumit dengan motif apa pun, baik yang berbahan baku tembaga, kuningan, perak, maupun emas, termasuk yang dihiasi permata.
Soal tarif, itu tergantung bahan baku dan motif. Yang dibuat dari tembaga dan kuningan paling murah Rp 100.000-Rp 500.000. Yang dari perak Rp 1 juta-Rp 5 juta, dari emas Rp 20 juta-Rp 50 juta. ”Pendok dari emas biasanya membutuhkan satu ons emas.”
Kalau Mulyadi sebagai pengrajin alusan, saudara-saudaranya mengerjakan ada yang alusan sampai yang harganya murah bahkan kodenan. “Saya bikin dari yang Rp 55.000 sampai Rp 95.000 untuk yang berbahan tembaga maupun kuningan,” tutur Mulyono. Ada lebih murah, yakni yang dijeglok, tidak ditatah. Mulyono mengaku awalnya diajari kakaknya, Mulyadi, tapi kemudian dikembangkan sendiri.
Oleh : Pardoyo,
Litbang SOLOPOS










Comments
sangat antusias pengembangan warisan leluhur.......
RSS feed for comments to this post.