Arkeologi Indonesia

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
HOME Articles Epigrafi & Manuskrip Menelusuri Makna Prasasti Kedukan Bukit (Sriwijaya)

Menelusuri Makna Prasasti Kedukan Bukit (Sriwijaya)

E-mail Print PDF
Article Index
Menelusuri Makna Prasasti Kedukan Bukit (Sriwijaya)
page 2
page 3
All Pages
Diantara prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya, prasasti Kedukan Bukit paling menarik diperbincangkan. Di samping banyak mengandung kata yang tidak mudah ditafsirkan, prasasti tersebut oleh beberapa sarjana dianggap mengandung kunci pemecahan masalah lokasi ibukota kerajaan besar itu, yang mendominasi pelayaran dan perdagangan internasional selama empat abad. Dari segi ilmu bahasa, prasasti Kedukan Bukit merupakan pertulisan bahasa Melayu-Indonesia tertua yang pernah ditemukan sampai saat ini.

Menelusuri Makna Prasasti Kedukan Bukit (Sriwijaya)

Alkisah, di daerah Kedukan Bukit, Palembang, terdapat batu bertuliskan huruf kuno yang dikeramatkan penduduk. Jika diadakan perlombaan berpacu perahu bidar di Sungai Musi, perahu yang akan dipakai ditambatkan dulu pada batu itu dengan harapan memperoleh kemenangan. Pada bulan November 1920, Batenburg seorang kontrolir Belanda mengenali batu itu sebagai prasasti. Penemuan itu segera dilaporkan pada Oudheidkundigen Dienst (Dinas Purbakala). Akhirnya, prasasti itu tersimpan di Museum Pusat Jakarta dengan nomor D.146.

Pada tahun itu juga, Residen Palembang L.C. Westenenk menemukan prasasti lain di daerah Talang Tuwo. Di Museum Pusat prasasti itu bernomor D.145. Kemudian kedua prasasti itu ditranskripsikan dan diterjemahkan oleh Philippus Samuel van Ronkel dalam tulisannya, “A Preliminary Notice Concerning Two Old Malay Inscriptions in Palembang”, pada majalah ilmiah Acta Orientalia, Volume II, 1924, hh. 12-21.

Isi Prasasti

Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 604 Saka (682 M) dan merupakan prasasti berangka tahun yang tertua di Indonesia. Terdiri atas sepuluh baris, tertulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno, masing-masing baris berbunyi sebagai berikut:

1. Swasti, sri. Sakawarsatita 604 ekadasi su-
2. klapaksa wulan Waisakha Dapunta Hyang naik di
3. samwau mangalap siddhayatra. Di saptami suklapaksa
4. wulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari Minanga
5. tamwan mamawa yang wala dua laksa dangan kosa
6. dua ratus cara di samwau, dangan jalan sariwu
7. telu ratus sapulu dua wanyaknya, datang di Mukha Upang
8. sukhacitta. Di pancami suklapaksa wulan Asada
9. laghu mudita datang marwuat wanua .....
10. Sriwijaya jayasiddhayatra subhiksa


Terjemahan dalam bahasa Indonesia modern:
1. Bahagia, sukses. Tahun Saka berlalu 604 hari kesebelas
2. paroterang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di
3. perahu melakukan perjalanan. Di hari ketujuh paroterang
4. bulan Jesta Dapunta Hyang berlepas dari Minanga
5. tambahan membawa balatentara dua laksa dengan perbekalan
6. dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu
7. tiga ratus dua belas banyaknya, datang di Muka Upang
8. sukacita. Di hari kelima paroterang bulan Asada
9. lega gembira datang membuat wanua .....
10. Perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna

Prasasti Kedukan Bukit menguraikan jayasiddhayatra (perjalanan jaya) dari penguasa Kerajaan Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang (Yang Dipertuan Hyang). Oleh karena Dapunta Hyang membawa puluhan ribu tentara lengkap dengan perbekalan, sudah tentu perjalanan itu bukanlah piknik, melainkan ekspedisi militer menaklukkan suatu daerah. Dari prasasti Kedukan Bukit, kita mendapatkan data-data:

1. Dapunta Hyang naik perahu tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682). Tidak ada keterangan dari mana naik perahu dan mau ke mana.
2. Dapunta Hyang berangkat dari Minanga tanggal 7 Jesta (19 Mei) dengan membawa lebih dari 20.000 balatentara. Rombongan lalu tiba di Muka Upang (sampai kini masih ada desa Upang di tepi Sungai Musi, sebelah timur Palembang).
3. Dapunta Hyang membuat ‘wanua’ tanggal 5 Asada (16 Juni).
(Penyesuaian tarikh Saka ke tarikh Masehi diambil dari Louis-Charles Damais, “Etude d’Epigraphie Indonesienne III: Liste des Principales Datees de l’Indonesie”, BEFEO, tome 46, 1952).

Prasasti Kedukan Bukit hanya menyebutkan gelar Dapunta Hyang tanpa disertai nama raja tersebut. Dalam prasasti Talang Tuwo yang dipahat tahun 606 Saka (684 M) disebutkan bahwa raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa menitahkan pembuatan Taman Sriksetra tanggal 2 Caitra 606 (23 Maret 684). Besar kemungkinan dialah raja Sriwijaya yang dimaksudkan dalam prasasti Kedukan Bukit.

Timbul setumpuk pertanyaan: Di manakah letak Minanga? Benarkah Minanga merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya, ataukah hanya daerah taklukan Sriwijaya? Apakah arti kalimat ‘marwuat wanua’? Benarkah kalimat itu menyatakan pembangunan sebuah kota seperti pendapat banyak ahli sejarah? Benarkah peristiwa itu merupakan pembuatan ibukota atau perpindahan ibukota Sriwijaya? Demikianlah prasasti Kedukan Bukit mengandung banyak persoalan yang tidak sederhana. “This text has caused much ink to flow” kata Prof. Dr. George Coedes dalam bukunya, The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1968, h. 82.

Beberapa Tafsiran

Pada tahun 1975 Departemen P dan K menerbitkan enam jilid buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditetapkan sebagai buku standar bagi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Jilid II membahas Zaman Kuna, disusun oleh Ayatrohaedi, Edi Sedyawati, Edhie Wuryantoro, Hasan Djafar, Oei Soan Nio, Soekarto K. Atmojo dan Suyatmi Satari, dengan editor Bambang Sumadio. Tafsiran mereka terhadap isi prasasti Kedukan Bukit adalah sebagai berikut: Dapunta Hyang memulai perjalanan dari Minanga Tamwan, kemudian mendirikan kota yang diberi nama Sriwijaya. Mungkin sekali pusat Sriwijaya terletak di Minanga Tamwan itulah, daerah pertemuan sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri (Sejarah Nasional Indonesia, II, Balai Pustaka, Jakarta, 1977, h. 53).

Dr. Buchari, ahli epigrafi terkemuka, dalam tulisannya “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung)”, Pra Seminar Penelitian Sriwijaya, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1979, hh. 26-28, memberikan penafsiran yang berbeda: Pada mulanya Kerajaan Sriwijaya berpusat di Minanga yang terletak di Batang Kuantan, di tepi Sungai Inderagiri, dengan alasan minanga = muara = kuala = kuantan. Lalu pada tahun 682 Dapunta Hyang menyerang Palembang dan membuat kota yang kemudian dijadikan ibukota kerajaannya yang baru. Jadi pada tahun 682 terjadi perpindahan ibukota Sriwijaya dari Minanga ke Palembang.

Dr. Slametmulyana, ahli filologi ternama, dalam bukunya Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, Idayu, Jakarta, 1981, hh. 73-74, berpendapat bahwa Kerajaan Sriwijaya selamanya beribukota di Palembang dan tidak pernah berpindah-pindah. Isi prasasti Kedukan Bukit tidak ada hubungannya dengan pembuatan kota Sriwijaya, dan Minanga yang disebutkan dalam prasasti itu hanyalah sebuah daerah taklukan Sriwijaya. Slametmulyana melokasikan Minanga di Binanga, yang terletak di tepi Sungai Barumun, Sumatera Timur.


 

Comments  

 
#30 2014-01-11 00:41
minanga tamwan atau minanga kabwa yg arti nya negeri minang... yang berada di desa mahat dan balubuih di kabupaten 50 kota sumatera barat.. Daerah ini tercantum dalam Prasasti Kedukan Bukit sebagai daerah asal Dapunta Hyang Sri Jayanasa, pendiri Kerajaan Sriwijaya. Di pelosok desa Mahat, kecamatan Suliki Gunung Mas, banyak ditemukan peninggalan kebudayaan megalitikum. Di desa ini dapat disaksikan pemandangan kumpulan batu-batu menhir dari abad 6 dan 7
 
 
#29 2013-10-21 06:52
MINANGA adalah nama Desa Tua di dekat Kota Martapura perbatasan provinsi Lampung dan Sumsel. Sampai sekarang Desa itu masih ada. Mereka berbahasa Komering. Menurut saya mungkin saja Dapunta Hyang berlepas dari Desa Minanga ini menelusuri Sungai Komering terus ke Sungai Musi.
 
 
#28 2013-09-02 05:51
ini yang komen banyak kali lah bernada kesukuan ga mutu. Jauhkan kesukuan lihat secara objektif, memang Binanga yang paling tepat, kalau pak Slamet memilih Binanga bukan berdasar kesukuan memang pak Slamet orang Binanga (Tapsel/Mandailing) ? bukan kan...
 
 
#27 2013-04-01 03:22
Minanga = daerahnya orang Minang Jaman dulu = Sumatra Timur, orang minang ngungsi ke Sumatra barat karena kalah perang lawan Sriwijaya
 
 
#26 2013-03-10 15:11
maaf komen saya terbalik ditampilkan situs ini, tolong dibaca mulai dari komen no 22 ya.
 
 
#25 2013-03-10 15:11
Disebut naga krn orang Minang di era Sriwijaya adalah penakluk Nusantara dan Asia tenggara, sehingga mereka disimbolkan dg Naga yang menjadi simbolisasi hewan dg kekuatan tertinggi dlm mitologi hindu buddha. Para arkeolog dan filologi jawa tidak mau ini terungkap agar dominasi orang minang tetap bisa dihilangkan dan dikaburkan.
 
 
#24 2013-03-10 15:10
harap diketahui, pasukan pagaruyung menaklukkan pasukan majapahit di padang sibusuak, dan sehingga tempat peperangan besar itu dinamakan padang sibusuak krn banyaknya bangkai orang jawa majapahit di sana.
 
 
#23 2013-03-10 15:09
coba anda baca kitab2 kuno di kerajaan Bali, sriwijaya itu disebut Minangakabwa Sriwijaya. Minangkabwa artinya adalah negeri para keturunan naga. Mina itu dalam sanskrit bermakna naga, nga itu konjungsi yg menghubungkan dg kabwa yg berarti negeri. sedangkan kata Minang sebagai leksikon yg berdiri sendiri justru bermakna keturunan naga.
 
 
#22 2013-03-10 15:06
Dr. Slametmulyana sepertinya tidak ingin dominasi Minangkabau sebagai pendiri Sriwijaya terungkap, sengaja diputarbalikann ya terjemahan prasasti kedukan bukit, padahal sudah jelas bahwa dapunta Hyang itu berangkat dari Minangakabwa untuk menaklukkan palembang. Jadi Minangakabwa itu bukanlah daerah taklukan Sriwijaya, justru Minangakbawa itulah daerah asal pendiri sriwijaya dan penakluk palembang, dan kemudian menaklukkan Jawa.
 
 
#21 2013-03-09 19:46
- kalaupun minanga di kampar, Dapunta Hyang melakukan perjalanan siddhayatra dan menaklukan kawasan tempat ditemukannya prasasti ini (Palembang, sungai Musi), lalu gerakan penaklukan terus berlanjut ke Malayu Jambi ..jambi di taklukan 686 M
-bila minanga di kampar untuk apa sriwijaya memindahkan ibukota jauh ke selatan(palemba ng) padahal daerah itu sudah strategis untuk jadi bandar dan ibukota
- sebuah kerajaan tidak akan memindahkan ibukotanya jauh dari kampung halaman
 

Add comment


Security code
Refresh

Random Image

Who's Online

We have 30 guests online

Comments

21-12-2014By Richardoa
The Elephant Cave (Goa Ga...
best drugstore dark spot corrector lorazepam ohne rezept illinois mental health facilities readmore
18-12-2014By admin
Aksara Kaganga, antara Ad...
Untuk Pak Sarijo: silahkan hubungi Bapak Rapanie Igama di Museum Negeri Sumsel atau Bapak Wahyu di B... readmore
16-12-2014By sarijo
Aksara Kaganga, antara Ad...
Aku punya surat ulu yang ada di ruas bambu Bagaimana cara mempelajarinya hingga tau kegunaannya dan ... readmore
16-12-2014By subani harjosoemarto
Sekelumit Jejak, Kyai Sad...
jangan gampang ngomong yang menyesatkan yang ngomong sesat itu belum belajar di dalamnya....... Gust... readmore
13-12-2014By Yanuar Abdullah
Misteri Candi Muara Takus...
Perlu didorong upaya pengungkapan misteri Sriwijaya (Saribijayo) ; Datuk Sibijayo. Disini peradaban ... readmore
30-11-2014By uang kuno
Bisnis Uang Lama Menguntu...
Bisnis uang kuno memang sangat menarik readmore
30-11-2014By Rifati
Naskah Sunda Kuno Asal Ja...
Om punten boleh minta alamat yg bisa di hubungi untuk meminta data naskah jampang asli dan yg sdh di... readmore
29-11-2014By ayu
Benteng Penyu di Makassar
materi ini sangat membantu saya..... thanks ya........ yg uda buat ini:) readmore
28-11-2014By bayu
26-11-2014By santridanalam
Situs Liyangan Ungkap Mis...
Liyangan tertibun karena Erupsi Sindoro, apa ada data terkait erupsi Sindoro saat itu? Apa bukan eru... readmore
RSS