SEJUMLAH perempuan beda generasi itu, tampak mengais-ngais tumpukan gerabah yang mereka bakar dalam kobaran api. Satu demi satu gerabah yang baru saja mereka produksi, dipindahkan ke tempat lain. Aneka jenis gerabah yang telah dibakar sebagai proses akhir itu pun siap dipasarkan.
Mereka adalah perempuan-perempuan perajin gerabah yang tersisa, di Gampong Ateuk Jawo, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh. Kerajinan membuat gerabah, mulai dari periuk nasi (kanot bu), belanga (beulangong), piring nasi (pinee), cobek (capah), hingga vas bunga (pot bungong) itu mereka lakukan secara terun-temurun.
Sekarang ini, jumlah perajin gerabah yang ada di desa yang masuk dalam wilayah Kota Banda Aceh itu hanya bisa dihitung dengan jari. Konon, banyak ibu-ibu dan anak-anak perempuan di desa ini banyak yang meninggalkan pekerjaan yang sebelumnya diwariskan secara turun-temurun itu. Seperti diceritakan Merdiati (37), seorang pengrajin gerabah di Gampong Ateuk Jawo yang hingga kini masih tetap eksis membuat produk perkakas dapur tradisional itu, mengaku salah satu penyebab makin sedikitnya pengrajin gerabah, karena tanah liat sebagai bahan dasar pembuatan gerabah, sekarang sudah sulit didapatkan.
Meski demikian, keahlian mengolah tanah liat menjadi barang pecah belah masyarakat gampong tidak pupus dan lekang oleh waktu. Gerabah tetap diproduksi walau jumlah perajinnya mulai berkurang. Sebab, menurut mereka, kanot bu, beulangong, pinee, capah, bahkan pot bungong dari tanah liat masih tetap dicari orang. “Sekarang, kami tidak perlu menjualnya sendiri ke pasar, tapi ada agen yang menampungnya,” kata Merdiati.
Para agen penampung alias mugee membeli kepada para pengrajin dengan harga yang bervariasi sesuai ukuran gerabah yang diproduksi industri rumah tangga itu. Berkisar Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per buahnya. Merdiati juga bercerita kalau dipikir lelah mereka memang lelah. Namun itu tidak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap mengepulkan asap dapur dengan hasil jerih payah dari penjualanan gerabah yang diproduksi saat waktu senggang itu.
Dari pantauan Serambi di area pembakaran gerabah itu, di sebuah rumah panggung berdinding papan, Merdiati, Nurbaity (35), Azizah (45), dan Nurma (50), tampak ceria sambil bersenda-gurau mengeluarkan gerabah mereka dari bara-bara api yang sudah padam dan menjadi abu itu. Mereka bisa membuat dan menghasilkan 20-40 gerabah setiap minggunya.
Bergotong-royong
Dalam pekerjaannya itu, mereka kerap melakukannya secara bergotong royong. Bahkan, Nurma, yang paling tua di antaranya tak menghiraukan panasnya uap bara, sibuk terus mengeser tumpukan ratusan gerabah yang masih hangat itu dengan batang rumbia sepanjang 3 meter. Sedangkan tiga perempuan muda lainnya menyambut gerabah itu dengan mengumpul dan memilahnya serta kemudian menumpukkannya di pinggiran.
Sudah 32 tahun, ibu beranak empat itu terus melumer tanah liat menjadi barang pecah belah yang tetap digunakan sebagian masyarakat Aceh sebagai wadah memasak. Walau zaman sudah berubah, ia bersama keempat anaknya tetap memproduksi wadah masak dari tanah liat tersebut walau zaman sudah millennium kini.
“Selagi saya masih kuat, saya akan terus membuat gerabah. Jika kami tidak barang-barang yang sudah ada puluhan tahun ini akan hilang dan tergeser sehingga kelak anak cucu kita tidak tahu dan mengenal lagi wadah memasak dari tanah liat produksi indatu mereka,” katanya penuh arti. Meski sekarang ini banyak perkakas rumah tangga modern yang terbuat dari plastik maupun logam, membanjiri pasar. Namun ia yakin, selagi gerabah tradisional milik masyarakat Aceh ini terus diproduksi, tetap ada ibu-ibu rumah tangga yang memakainya. “Konon, memasak dengan memakai gerabah, aroma masakan yang dihasilkan jauh lebih enak di sebagian lidah masyarakat kita,” kata berpromosi.
Seorang pengrajian gerabah lainnya, Nuraini mengaku sebulan jika matahari terik, ia mampu menghasilkan ratusan gerabah yang ia bikin saat waktu senggang. Sebulan ia menghasilkan uang dari jerih payahnya itu Rp 200.000 hingga Rp 600.000. Dengan uang inilah ia memberi makan dan membiayai pendidikan anak-anaknya itu. Lalu, dengan jumlah pengrajin gerabah yang tinggal bisa dihitung dengan jari, serta desakan produk-produk berteknologi tinggi seperti terlihat sekarang ini, apakah merupakan isyarat atau pertanda bahwa kerajinan gerabah sudah berada di ambang kepunahan?
Saniah LS
Sumber: http://kompas.com/










Comments
RSS feed for comments to this post.