Arkeologi Indonesia

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
HOME Articles Memori dan Catatan Perjalanan "Luka" Sejarah Dandang Kiai Dudo

"Luka" Sejarah Dandang Kiai Dudo

E-mail Print PDF
Delapan tahun sekali, bertepatan dengan peringatan Sekaten tahun Dal dalam penanggalan Jawa, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar prosesi adang sego atau menanak nasi. Pada prosesi ini, beras di-tanak menggunakan dandang pusaka. Namun, di balik tradisi ini ternyata tersimpan ”luka” sejarah Geger Pacinan yang belum kunjung usai.

Tahun Dal dalam kalender Jawa merupakan tahun kelima dalam hitungan siklus sewindu (delapan tahunan). Sekaten tahun Dal dipilih sebagai siklus prosesi adang sego karena bertepatan dengan perhitungan kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam penanggalan Jawa. Prosesi ini bagi kerabat keraton merupakan wujud rasa syukur atas berkah yang dilimpahkan Tuhan Yang Maha Esa.

Minggu (28/2) itu suasana di bagian luar Gondorasan (dapur), Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta begitu hening meski disesaki ratusan abdi dalem dan kerabat keraton. Mereka terlibat dalam prosesi adang sego yang dilangsungkan mulai petang hingga dini hari pada keesokan harinya. Mereka menunggu matangnya nasi yang di-tanak menggunakan empat dandang, yakni Kiai Dudo, Kiai Rezeki, Kiai Macan, dan Kiai blawong.

Prosesi tahun ini sekaligus menjadi adang sego perdana bagi SISKS Paku Buwono (PB) XIII yang dinobatkan tahun 2004. Empat dandang pusaka yang berada di Dalem Ageng Keraton, seusai Grebeg Sekaten pada hari Jumat, dibawa guna dibersihkan atau dijamas. Setelah itu, dandang dibawa menuju Gondorasan. SISKS PB XIII memulai prosesi dengan menyalakan api tungku.

Tungku yang digunakan itu berasal dari tanah liat yang diambil dari Bentangan, Kecamatan Baki, Sukoharjo. Api yang digunakan berasal dari Purwodadi, Grobogan, sedangkan air dari Umbul Pengging di Boyolali. Beras untuk menanak nasi berasal dari Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Sekitar 100 kilogram beras ditanak di empat tungku itu hingga dini hari.

Menurut Wakil Pengageng Sasono Wilopo atau Wakil Sekretaris Keraton Surakarta KRA Winarnokusumo, nasi yang dihasilkan bakal dikemas dalam ukuran kepalan tangan untuk dibagikan kepada abdi dalem pada acara Pisowanan Ageng di Pendopo Keraton Surakarta keesokan harinya.

”Tradisi ini selain wujud syukur juga merupakan ungkapan rasa peduli sinuhun (raja) kepada rakyatnya,” ungkapnya.

Larangan masuk
Winarnokusumo menambahkan, tradisi adang sego sudah mulai berlangsung sejak masa pemerintahan PB II. Tepatnya, setelah keraton pindah dari Kartasura ke Solo, seperti kedudukannya saat ini. Pemindahan terkait dengan Geger Pacinan tahun 1742. Saat itu, keraton di Kartasura berhasil diduduki pasukan Tionghoa bersama bangsawan Raden Mas Garendi. ”Mereka menjebol keraton dari dapur. Konon, saat itu Dandang Kiai Dudo tertendang oleh prajurit Tionghoa hingga sedikit penyok,” kata Winarnokusumo.

Berawal dari situ, tambahnya, muncul kepercayaan bahwa selama pelaksanaan adang sego tidak diperkenankan ada seseorang berdarah Tionghoa masuk ke Gondorasan dan menyaksikan prosesi ini. Apabila dilanggar, api tidak akan menyala di tungku tempat dandang berada.

Sejarawan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Soedarmono, membenarkan bahwa adang sego muncul pada masa PB II. Ia meyakini tradisi adang sego terbawa karakter pasca-Geger Pacinan. Ketika itu, PB II tersingkir dari keraton setelah penyerbuan tentara Jawa dan China yang mendukung Raden Mas Garendi menjadi Amangkurat dan menduduki takhta Mataram.

Awalnya, gabungan pasukan itu hendak mengusir kongsi dagang Belanda VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Mereka bahkan telah bersepakat dengan PB II untuk bersama-sama menyerang garnisun VOC. Namun, pada hari yang ditentukan, PB II tidak menepati janji dan berbalik mendukung VOC akibat tipu daya dan politik adu domba VOC.

Hal ini menyulut kemarahan pasukan gabungan Tionghoa-Jawa itu sehingga mereka merangsek masuk dan membakar keraton sekaligus mengusir VOC tahun 1742.

”Fakta sejarah ini yang sebenarnya tidak banyak terungkap. Jadi, penyerangan itu sesungguhnya bukan hanya dilakukan orang-orang Tionghoa, tetapi gabungan dengan pasukan Jawa juga karena lawan mereka VOC,” tambah Soedarmono.

Rekonsiliasi sejarah
Soedarmono berharap ”luka” sejarah yang sensitif dari Geger Pacinan tak perlu dibesar-besarkan. Mitos Dandang Kiai Dudo itu diharapkan tidak perlu diperpanjang hingga menjadi stereotip yang memproyeksikan ”dendam” masa lalu. Sebaliknya, perlu upaya rekonsiliasi.

”Agak sukar dinalar bahwa dandang itu benar-benar ditendang oleh pasukan Tionghoa hingga penyok. Selain itu, bagaimana dandang tersebut masih utuh pada saat peristiwa tersebut terjadi,” tambahnya.

Bagi Ketua Humas dan Pelayanan Perkumpulan Masyarakat Surakarta Sumartono Hadinoto, tradisi dan kepercayaan itu sebagai kebudayaan harus dilestarikan. Namun, dia berharap mitos di balik Dandang Kiai Dudo ini sekadar semacam bagian dari sejarah masa lalu yang tidak perlu sampai mewarnai hubungan antaretnis pada masa kini.

Hal ini, tambah Sumartono, merupakan tugas seluruh masyarakat Surakarta dari berbagai latar belakang etnis dan suku. Membangun suasana yang aman dan tenteram tanpa prasangka negatif melalui komunikasi intensif. Tentu diharapkan perlahan tetapi pasti ”luka” sejarah lebih dari dua setengah abad silam akan terobati….



Antony Lee
Sumber: http://cetak.kompas.com/
 

Add comment


Security code
Refresh

Random Image

Who's Online

We have 30 guests online

Guestbooks

07-02-2012 Ibieyubxig
In rare instances, men kamagra cheap buy buy kamagra enchanting PDE5 inhibitors (vocal order cheap v... readmore
07-02-2012 Fkyvhxiqwf
In rare instances, men cheap kamagra buy brand kamagra fascinating PDE5 inhibitors (articulated viag... readmore
07-02-2012 Vqnjrdgf
http://plavixandaspirin307.posterous.com plavix and aspirin http://whatisgenericplavix848.posterous.... readmore
07-02-2012 Zifeblele
teen shitting tube brazilian kaviar veronika moser tube Scat Porn Catalog - Nothing but free... readmore
07-02-2012 Ozcinfeq
http://plavixusedfor341.posterous.com plavix used for http://plavixtablet156.posterous.com plavix ta... readmore

Comments

30-01-2012Bernard
Bisnis Uang Lama Menguntu...
Saya punya 1 lembar uang 50 sen tahun 1964 uang koin kuno NEDERLANDSCH INDIE 2 1/2 CENT TAHUN 1945 D... readmore
30-01-2012Anna
Pusat Informasi Majapahit...
punya peta tempat-tempat peninggalan majapahit ndak??? (candi / arca).. saya berencana napak tilas d... readmore
29-01-2012dewa sudharsana
Pusat Informasi Majapahit...
Sebagai Bangsa Indonesia,kita harus Bangga Punya Kerajaan Majapahit readmore
29-01-2012fian
Pusat Informasi Majapahit...
kwkwkwkwkwk ilmune manfaat asooooy readmore
27-01-2012adjis
Wisata Budaya dan Sejarah...
terima kasih atas informasi yang disebarkan tentang Tarakan mudah2an bermanfaat bagi banyak orang. N... readmore
RSS