Pusat Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, ternyata bukan hanya sekadar sebuah lembaga ilmiah biasa. Keberadaannya memiliki nilai sejarah tersendiri bagi Jember. Beberapa bangunan yang ada dan hingga kini masih eksis, ternyata sudah ada sebelum pemerintahan Jember terbentuk.
Meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.30, kondisi udara di areal pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, masih terasa sejuk dan segar.
Kicauan burung terdengar merdu. Lahan puslit ini banyak berdiri pohon-pohon besar nan rindang. Sehingga, panasnya mentari tertahan oleh rimbunnya dedaunan dari pepohonan yang tumbuh.
Di balik kesejukan itu, terlihat sebuah bangunan tua yang masih berdiri kukuh. Melihat konstruksi serta modelnya, berbeda dengan bangunan lainnya. Bangunan itu merupakan sisa-sisa peninggalan kolonial Belanda yang masih digunakan hingga kini. Meski ukurannya kecil, namun bangunan itu sangat asri. "Ini yang tersisa di sini. Dan bangunan ini usianya sudah tua," kata Tutik, salah seorang staf Puslit Kopi dan Kakao Indonesia.
Namun sejatinya, bangunan itu merupakan bagian terkecil dari sejarah puslit itu sendiri. Ada yang lebih besar nilai sejarah, yakni bangunan yang ada di Jalan PB Soedirman, Jember. "Di sana kantor Puslit Jember, sebelum pindah ke sini," kata Tutik.
Keberadaan puslit di Jember ini tampaknya bukan serta merta muncul begitu saja. Namun merupakan simbol sejarah bagi kemajuan pertanian dan perkebunan di kawasan eks Besuki khususnya, dan Indonesia pada umumnya.
Puslit ini didirikan oleh Belanda pada 1 Januari 1911. Lembaga ini berisi orang-orang pintar dalam bidang perkebunan dan pertanian. Saat berdiri lembaga ini bernama Besoekisch Proefstation. Sejak berdiri pada 1911, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia berkantor di Jalan PB Sudirman 90 Jember.
Saat Besoekisch Proefstation berdiri, Pemerintahan Kabupaten Jember belum terbentuk. Saat itu, kawasan ini masih masuk dalam pemerintahan Kabupaten Bondowoso. Sedangkan Jember masih merupakan afdeling, bukan resident (kabupaten).
Sedangkan Kabupaten Jember lahir sepuluh tahun berikutnya. Yakni pada 1929. Ini menyusul dikeluarkannya Staatblaad No 322 tahun 1929 tentang Tata Pemerintahan Jember. Pendirian lembaga ini dianggap penting oleh pemerintah Hindia Belanda. Sebab saat itu, kawasan Besuki merupakan kawasan perkebunan. Hampir seluruh wilayah di kawasan ini sangat baik untuk budi daya tanaman kebun dan pertanian.
"Kawasan ini dinilai strategis untuk penghasil komoditas pertanian dan perkebunan. Karena kondisi itulah, akhirnya Belanda mendirikan lembaga penelitian," kata Dr Ir Soetanto Abdoellah SU, kepala Bidang Penelitian Puslit Kopi dan Kakao Indonesia.
Kawasan ini oleh Belanda dinilai cocok untuk mengembangkan tanaman tembakau, kopi, dan kakao. Semua itu, lanjut dia, adalah komoditas yang disukai orang-orang Eropa. Untuk menjaga komoditas agar bisa berkelanjutan, Belanda memandang perlu mengelola perkebunan dengan baik.
"Salah satunya mendirikan lembaga ini. Dan sejatinya, pendirian lembaga ini hanya untuk kepentingan pemerintah kolonial Belanda sendiri agar bisa merawat dan menjaga komoditas tetap bagus," katanya.
Dijelaskan, dalam buku sejarah yang tertinggal, puslit memiliki usia lebih tua ketimbang Pemerintahan Kabupaten Jember sendiri. Besoekisch Proefstation didirikan di Jember untuk mempelajari semua kemungkinan yang terjadi dalam budi daya tanaman.
Seperti memilih dan menciptakan varietas yang bagus untuk tanaman tembakau dan perkebunan, seperti kopi dan kakao, serta mempelajari berbagai penyakit tanaman yang ada. "Lembaga ini didirikan hanya untuk kepentingan mereka sendiri," katanya.
Seiring perkembangan zaman, terjadilah pergolakan. Perebutan kekuasaan terjadi antara pemerintah kolonial Belanda dengan Republik Indonesia. Dan saat itu, kata dia, seluruh aset dikuasai Indonesia termasuk Besoekisch Proefstation.
Bukan hanya gedung serta bangunan fisik yang diambil alih. Namun seluruhnya apa yang ada diambil alih oleh Indonesia. Namun, seluruh ilmu yang ada dan sifatnya progresif tetap dipertahankan. "Di sini juga masih terdapat berbagai dokumen penting. Mulai surat menyurat tulisan tangan masih ada," katanya.
Dia menambahkan, dalam perkembangannya, nama dan pengelola pusat penelitian dipecah. Untuk tembakau dipusatkan di daerah lain, sedangkan di Jember hanya menangani masalah kopi dan kakao. "Sebelum ini, juga ada karet, tembakau, dan lainnya. Karena diperlukan pengembangan, akhirnya dipecah," katanya.
Kini, puslit bukan hanya sebuah bangunan peninggalan kolonial Belanda. Lebih dari itu, tempat ini bisa di jadikan sebuah museum pertanian. Sebab, di puslit ini masih tersimpan beberapa varietas tanaman pertanian dan perkebunan yang usianya sudah tua.
"Semua masih tersimpan dengan rapi. Dan ini kami abadikan sebagai warisan untuk kemajuan negeri," kata Soetanto lagi.
Apa saja yang tersimpan di sini? Dikatakan, hingga kini, masih berdiri kukuh pohon kopi yang usianya ratusan tahun. "Ada pohon kopi yang ditanam sejak 1920. Ini masih tetap hidup," katanya.
Tak hanya itu, jenis varietas tembakau tua juga masih tersimpan rapi. Ini juga jenis tembakau Na Ooghst. Varietas ini ditemukan pada 1920. "Dipilih varietas ini karena tembakau bawah naungan itu cocok ditanam di sini," katanya. Menariknya, hingga kini, hama dan penyakit juga masih tersimpan bersama pengedaliannya. "Ini menjadi khazanah intelektual untuk kemajuan negeri," paparnya.
Dijelaskan, tugas bagi puslit adalah melakukan penelitian guna mendapatkan inovasi teknologi di bidang budi daya dan pengolahan hasil kopi dan kakao. Selain itu, melakukan kegiatan pelayanan untuk petani. "Selain itu melakukan percepatan alih teknologi dan membina kemampuan di bidang sumber daya manusia, sarana, dan prasarana," kata Soetanto lagi.
BARID ISHOM
Sumber: http://www.jawapos.com/










Saya punya 1 lembar uang 50 sen tahun 1964 uang koin kuno NEDERLANDSCH INDIE 2 1/2 CENT TAHUN 1945 D... readmore