Cuaca Kota Yogyakarta yang terik sepanjang Jumat (12/3) siang mengembalikan ingatan Teguh Budi Harto (23) ke pertengahan Oktober 2009. Saat itu, Teguh dengan sukarela mengantar pasangan suami-istri asal Kanada mengelilingi Kotabaru.
Teguh bertemu pasangan itu di kafe tempat ia bekerja sebagai pelayan. Dari perbincangan ringan, Teguh mengetahui, kedatangan mereka ke Yogyakarta tidak sekadar untuk berwisata. Anne (83), sang istri, bermaksud mencari sebuah rumah kuno di sekitar Kotabaru.
Kendati berstatus warga negara Kanada, Anne merupakan keturunan Belanda. Bersama orangtuanya, Anne pernah tinggal di Yogyakarta dan mengajar bahasa Inggris di sekolah swasta sekitar tahun 1947.
"Saya membantu mereka karena sudah berusia lanjut. Lagi pula, mereka tak bisa berbicara bahasa Indonesia," kata Teguh.
Bukti yang dimiliki Anne hanyalah selembar foto usang. Foto seukuran kartu pos itu menampilkan rumah berarsitektur khas Belanda- atapnya lebih tinggi dari dinding, memiliki paviliun dan halaman luas-yang terkesan mewah. "Anne juga ingat rumah itu membelakangi sekolah," katanya.
Keterbatasan ini membuat mereka bekerja ekstrakeras. Teguh membantu bertanya kepada warga, tukang becak, bahkan mendatangi satu per satu rumah yang diduga. Namun, setelah lebih kurang tiga jam berkeliling, tidak ada rumah peninggalan Belanda di Kotabaru yang mirip foto.
Ada satu rumah yang kondisi fisik dan lokasinya nyaris sama. Namun, Anne ragu karena rumah itu sudah direnovasi pemiliknya. Rumah itu juga menghadap SMA Bopkri I Yogyakarta dan bukan membelakanginya.
"Mereka kecewa karena tidak menemukan rumah yang dicari. Kondisi Yogyakarta sudah berubah. Jika rumah-rumah kuno di Kotabaru dilestarikan, mereka bisa kembali ke Kanada dengan kenangan bahagia," ujarnya.
Penguat identitas
Teguh mengaku kagum dengan upaya Anne. Apa yang dicarinya membuat Teguh makin mengerti tentang pentingnya sejarah sebagai penguat identitas diri.
Membantu menelusuri rumah kuno di Kotabaru juga pernah dialami Yanto (40), tukang becak yang bisa mangkal di depan Rumah Sakit Bethesda. Dua tahun lalu, ia mengantar seorang Belanda mencari bekas rumah orangtuanya di dekat Gereja Huria Kristen Batak Protestan.
"Untungnya rumah itu masih dirawat baik oleh pemiliknya sampai sekarang. Jadi, tamu yang saya antar tidak kecewa. Malah, ia membayar saya banyak sekali sebagai tanda terima kasih," ujar Yanto tertawa.
Bagi pria asal Bantul ini, bukan bayaran banyak yang mengesankannya. Ia terkesan dengan tekad dan usaha warga asing menelusuri akar sejarah mereka, bahkan hingga ke negara lain yang jaraknya ribuan kilometer.
Yanto menggunakan turis Belanda yang diantarnya sebagai contoh tentang kuatnya identitas diri. Turis yang namanya luput dari ingatan Yanto itu sangat ramah dan menghargainya, kendati ia hanya tukang becak. "Kata pak turis Londho itu, saya dan dia sebenarnya sama. Sama-sama warga Yogyakarta. Hanya saja ia tidak bisa selamanya tinggal di Yogya," kata Yanto.
Kegiatan nostalgia yang dilakukan beberapa warga asing di Yogyakarta tidak hanya berdampak positif bagi identitas Yanto dan Teguh sebagai orang Yogyakarta, tetapi juga telah mengoptimalkan peran mereka sebagai pelaku wisata.
Yogyakarta punya banyak bukti sejarah. Yogyakarta juga punya segudang kisah. Sejarah dengan kisah itu dapat mengundang mereka yang pernah hidup di Yogyakarta untuk bernostalgia. Sayangnya, jejak sejarah dan kisah itu kini diperlakukan seperti sepah.
Sumber: http://cetak.kompas.com/










Saya punya 1 lembar uang 50 sen tahun 1964 uang koin kuno NEDERLANDSCH INDIE 2 1/2 CENT TAHUN 1945 D... readmore