Sekitar 100 penggemar jalan-jalan dan penyuka aktivitas membaca yang sudah mendaftarkan dirinya berkumpul dalam gedung bersejarah di kawasan kota tua, Museum Mandiri, Minggu (21/3/2010). Acara gratisan ini diinisiasi untuk pertama kalinya oleh dua komunitas, yakni situs jejaring sosial untuk penggemar membaca, Goodreads Indonesia, dan para penyuka sejarah dan museum, Sahabat Museum Indonesia atau BatMus.
Perempuan dan lelaki, muda hingga para orangtua, Minggu sore tersebut terlibat dalam obrolan santai bertema "Garuda, Masihkah di Dadaku?". Topik tentang Garuda memang kembali hangat setelah perancang Giorgio Armani memproduksi kaus dengan gambar mirip Garuda Pancasila. Indonesia sebenarnya juga punya banyak cerita tentang Garuda dan bagaimana lambang negara ini diaplikasikan di berbagai kreativitas seni.
Sejarawan dari LIPI, Dr Asvi Warman Adam, lalu membahas buku Mencari Telur Garuda yang ditulis oleh Nanang R Hidayat. Diskusi ringan yang juga menghadirkan Nanang itu membahas tentang Garuda, sejarah lambang negara, dan bagaimana keunikan yang ditemui dalam keseharian di Indonesia. Contohnya saja, bentuk Garuda di Indonesia ternyata tak semuanya sama.
Nanang dengan detail menjelaskan, di Istana Negara, lambang Garuda muncul dengan berbagai bentuknya. Jika dilihat detail, bentuknya tak sama, bahkan dalam satu bingkai. Di daerah, Garuda juga digambarkan dengan berbagai rupa. Kaus dengan motif gambar Garuda juga banyak diproduksi oleh perancang lokal, hanya saja tidak menjadi tenar seperti saat Armani meluncurkan produknya. Obrolan semakin menarik ketika mengangkat sisi unik Garuda, peraturan yang menjaganya, dan kreativitas pekerja seni Indonesia yang terinspirasi dengan Garuda.
Pindah tongkrongan
Aktivitas akhir pekan seperti ini menjadi alternatif hiburan mendidik yang cukup menyenangkan. Tak sekadar belajar mengenai sejarah, dan makna di balik sebuah nama atau gambar, anak-anak juga bisa belajar sejarah dengan cara menyenangkan. "Dengan mendatangi museum, kami mendapatkan pengetahuan dengan cara menyenangkan.
Kegiatan semacam ini juga menjadi ajang jalan-jalan, sekaligus memaknai sejarah dengan cara berbeda," kata Ade Purnama, pendiri Sahabat Museum, kepada Kompas Female.
Berbagai hobi tersalurkan di sini, mulai hobi membaca buku, jalan-jalan ke tempat bersejarah yang masih ada di Jakarta, hingga hobi fotografi.
Penamaan acara pun boleh saja berbeda, tetapi kedua komunitas ini berbaur menyalurkan kesukaannya. BatMus menyebut acara ini sebagai Pintong atau Pindah Tongkrongan (program santai dari Sahabat Museum untuk menjalin kebersamaan anggotanya). Goodreads Indonesia juga rutin mengadakan diskusi buku untuk anggotanya. Buku yang dibahas dalam acara diskusi adalah buku hasil rekomendasi dari jajak pendapat internal di jejaring sosial komunitas pembaca ini.
"Buku yang direkomendasikan adalah buku yang dinilai bagus oleh reviewers. Buku pilihan ini sebelumnya dibaca dan dibahas dalam internal situs jejaring selama sebulan penuh," kata moderator Goodreads, Amang Suramang.
Tertarik menyalurkan hobi dengan cara unik dan menyenangkan? Anda bisa melibatkan keluarga sekaligus menjadikannya model edukasi sambil jalan-jalan sore di sisi lain Kota Jakarta.
Sumber: http://kompas.com/










Saya punya 1 lembar uang 50 sen tahun 1964 uang koin kuno NEDERLANDSCH INDIE 2 1/2 CENT TAHUN 1945 D... readmore