Dulu, Port of Macassar atau Pelabuhan Makassar memanjang mulai dari muara Sungai Tallo hingga ke muara Sungai Jeneberang.
Perang Makassar tidak terbendung lagi. Bala tentara Belanda berambisi menguasai pelabuhan internasional Makassar. Ambisi itu berwujud perang yang lebih dikenal dengan sebutan Perang Makassar. Peristiwa ini terjadi pada 1666 hingga 1669.
Perlawanan rakyat Makassar berakhir dengan Perjanjian Bongaya yang ditandatangani Sultan Hasanuddin pada 1667. Setelah Perjanjian Bongaya perlawanan masih ada namun, tidak membuahkan hasil.
Usai perang, Belanda yang dipimpin Cornelis Janson Spelman meruntuhkan 16 benteng-benteng pertahanan Kerajaan Makassar. Seperti Benteng Panakkukang, Benteng Anak Gowa, dan Benteng Barombong. Kecuali Benteng Jungpandang yang kemudian diganti namanya menjadi Fort Rotterdam. Benteng yang menjadi pusat pemerintahan di awal pemerintahan Kolonial Belanda selanjutnya.
Peneliti sejarah Universitas Hasanuddin, Edward L Poelinggomang, mengatakan, sebelum direbut Belanda, pelabuhan Makassar adalah satu-satunya pelabuhan transito internasional terpenting di Asia Tenggara.
Berdasarkan cacatan sejarah, lanjut Edward, Bandar Makassar terbentuk dari dua bandar niaga. Yakni kerajaan kembar Gowa-Tallo, yaitu Bandar Tallo yang terletak di pesisir selatan muara Sungai Bira atau Sungai Tallo dan Bandar Sombaopu dari Kerajaan Tallo yang terletak di pesisir utara muara Sungai Jeneberang.
"Sebelum terbentuk Pelabuhan Makassar terdapat kota-kota pelabuhan di pesisir barat Sulawesi yang menjadi tempat singgah dalam pelayaran ke Maluku. Kota pelabuhan ini juga diberikan predikat Makassar. Di antaranya Siang Makassar Pangkep, Bacokiki Makassar Parepare, Suppa Makassar Pinrang, Sidenreng Makassar Sidrap," kata Edward yang lulusan Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda.
Setelah penaklukan, hanya ada dua bandar. Yakni Tallo dan Somba Opu yang memanjang dari muara Sungai Bira atau Sungai Tallo hingga muara Sungai Jeneberang. Pedagang menyebutnya Bandar Makassar. Sebutan ini juga dialamatkan untuk Kerajaan Gowa dan Kerajan Tallo yang telah menyatu.
Dengan demikian, Makassar dipenuhi penduduk kerajaan maritim taklukan. Berdasar fakta sejarah itu bisa diperkirakan Bandar Makassar telah terwujud sekitar tahun 1557.
Kerajaan Makassar membuat kebijakan pintu terbuka atau open door policy. Pedagang Portugis telah menetap pada 1532. Pedagang Melayu yang sebelumnya bermukim di Bandar Siang atau Pangkajene beralih menetap di Makassar.
"Jadilah pelabuhan Makassar yang banyak didatangi pedagang seperti Belanda pada 1603, Inggris 1613, Spanyol 1615, Denmark 1618 dan China 1618. Berkumpulnya pedagang di bandar Makassar ini maka disebutlah wilayah ini sebagai bandar transito internasional terpenting," ujar Edward.
Kondisi ini bertahan hingga Belanda berhasil menguasai Pelabuhan Makassar. Belanda kemudian membangun di sebelah utara Fort Rotterdam perkampungan pedagang yang dinamakan Negorie Vlaardingen. Di tempat inilah para pedagang Belanda menetap dan menjual barang dagangan mereka. Lebih ke utara lagi, ditempatkan pedagang Melayu.
Negorie Vlaardingen inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Pelabuhan Soekarno-Hatta sekarang ini. Sementara Somba Opu dan Tallo sudah tidak lagi segagah sebelumnya.
Pelabuhan ini hanya menjadi pelabuhan singgah kapal kompeni dari Batavia yang berlayar ke Maluku. Kompeni menyebut tempat perdagangan ini dengan nama Vlardigen. Hubungan kerajaan dengan kompeni berpusat di Fort Rotterdam.
Ditemui terpisah, staf Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar, Natsir, mengatakan, bangunan pelabuhan peninggalan Belanda itu sudah tidak ada lagi. Sudah mengalami perombakan dan tidak ada yang bisa dijadikan bahan sejarah.
"Paling tidak ada tiga yang bisa dijadikan sumber sejarah. Salah satunya adalah menara pemantau di depan Fort Rotterdam," ujar Natsir, Kamis, 16 Juli.
Edward berharap kejayaan Pelabuhan Makassar bisa terulang kembali. Saat ini, kata Edward, ekspor dan impor tidak bisa dilakukan langsung dari Pelabuhan Makassar. Namun, jelas dia, harus melalui pelabuhan di Surabaya. "Itu artinya, Pelabuhan Makassar telah hilang dari aktivitas perdagangan dunia," ujar Edward.
SYAMSU RIZAL
Sumber: http://www.fajar.co.id/










Comments
RSS feed for comments to this post.