Luas kawasan hutan Kalijaga kurang dari 5 hektar. Namun, kawasan ini menjadi istimewa karena di sinilah konservasi alam dan budaya dipadukan, selaras dengan kehidupan warganya. Jika jenuh dengan kebisingan kota, hutan Kalijaga bisa menjadi tempat pelepas lelah sejenak untuk menghirup segarnya udara.
Kalijaga yang terletak di Kecamatan Harja- mukti, Kota Cirebon, memang menjadi paru-paru kota. Lokasinya hanya 1 kilometer arah selatan Terminal Harjamukti.
Kalijaga adalah hutan satu-satunya yang tersisa di Kota Cirebon. Hutan itu menyangga kehidupan flora dan fauna. Di tempat itu tumbuh pepohonan besar, seperti kesambi, akasia, beringin, dan pohon-pohon lain yang mungkin berusia ratusan tahun.
Seolah oase, saat melewati kawasan teduh ini, kebanyakan orang akan berhenti menikmati semilir angin dan kesegaran udara. Dua hal itu memang langka didapat di daerah pantura yang terik dan bersuhu udara tinggi.
Pengunjung bisa bertahan lebih lama jika menemukan gerombolan si Bule dan kawan-kawan berjalan-jalan. Bule dan gerombolannya adalah primata penghuni hutan Kalijaga yang jinak. Mereka tak takut mendekatkan diri ke kerumunan orang, apalagi jika diberi makan kacang atau pisang.
Monyet ini memang menjadi daya tarik istimewa karena tingkahnya yang unik sekaligus jinak. Pengunjung bisa memberi makan kapan saja kepada si monyet saat ia mendekat. Bahkan, pada saat-saat tertentu, seperti perayaan 17 Agustus, monyet ini diikutkan lomba panjat pinang.
Saat pohon pinang selesai dipancang, monyet-monyet itu akan berebut naik ke pohon untuk memperebutkan kacang, pisang, hingga minuman bersoda yang dipasang oleh warga.
Monyet ekor panjang ini, menurut Bambang Masadiningrat, pengelola kawasan hutan Kalijaga, memang berhabitat asli di Kalijaga, bahkan sebelum daerah itu berkembang menjadi permukiman.
”Jumlahnya diperkirakan ada 41 ekor. Kelestarian hutan Kalijaga-lah yang tetap menjaga eksistensi si Bule dan kawan-kawannya,” katanya, Jumat (19/11).
Situs budaya
Selain menjadi kawasan konservasi alam, hutan Kalijaga juga menjadi tempat konservasi budaya. Di tempat itu, salah satu tokoh wali sanga, yakni Sunan Kalijaga, memilih menyepi. Dari nama sang wali ini pula, nama hutan itu diadopsi.
Petilasannya masih bisa dilihat, yakni bangunan bertembok bata merah khas bangunan kuno Cirebon. Bangunan itu masih digunakan sebagai tempat berwisata sekaligus berziarah.
R Edi Kusumadinata, pengelola petilasan, mengatakan, usia situs itu diperkirakan lebih dari 400 tahun. Bangunan asli hanya tinggal tembok dan gerbang di depan dan belakang gedung. Gerbang itu terbuat dari bata merah yang sudah miring ke depan. Pintu kayu yang terbuat dari jati masih terpasang.
Meski tak lagi utuh dan sebagian sudah diperbarui, tempat ini tetap ramai dikunjungi. Pada hari libur atau saat-saat tertentu, ratusan wisatawan dari berbagai daerah berziarah atau berwisata sejarah.
Situs Sunan Kalijaga inilah yang menurut Edi turut menyangga kelestarian hutan kota. Lewat kearifan lokal, warga menjaga hutan untuk menghormati ulama besar mereka.
Setelah 400 tahun lebih, kawasan ini masih terjaga sebagai paru-paru kota, tempat konservasi alam dan budaya, sekaligus tempat wisata keluarga.
Sumber: cetak.kompas.com










Comments
RSS feed for comments to this post.