Mendengar nama Ki Ageng Mangir membawa kita pada sosok yang digambarkan sebagai pembangkang kekuasaan Mataram. Di luar gambaran pembangkang, sisi lain sosoknya tertinggal di Dusun Mangir, Sendangsari, Panjangan, Bantul, dengan hadirnya banyak situs.
Beberapa situs itu misalnya lingga yoni, batu sela gilang, arca Nandi, dan batu-batu lain petilasan Ki Ageng Mangir. Oleh Suwandoyo, warga setempat, situs-situs tersebut dikumpulkan menjadi satu dalam kawasan petilasan Ki Ageng Mangir. Kawasan itu berada di lahan 7.000 meter persegi. Suwandoyo memagari kawasan situs selama 25 tahun.
Kegigihannya merawat situs-situs itu didasari keinginannya menghargai jasa Ki Ageng Mangir. Situs-situs tersebut sekaligus menjadi bukti keberadaan Dusun Mangir sebagai daerah tertua di Bantul. Menurut kisah yang dituturkan dari mulut ke mulut, nama Bantul lahir pada masa Ki Ageng Mangir.
”Saya juga ingin meluruskan sosok beliau. Tidak benar kalau beliau disebut pembangkang. Ia bahkan dengan ksatria menyerahkan wilayah Mangir kepada Mataram, setelah menikahi putri Panembahan Senopati,” katanya.
Majapahit runtuh
Kisah Ki Ageng Mangir bermula ketika Majapahit runtuh pada 1527. Saat itu, Jawa menjadi daerah yang tidak bertuan dan tidak mengenal kekuasaan tunggal. Saat yang bersamaan, Walisongo mulai menyebarkan Islam dari pesisir utara.
Tidak adanya kerajaan besar membuat kekuasaan tersebar di sejumlah wilayah di seluruh Jawa. Akibatnya, kekacauan tidak bisa dihindari. Daerah-daerah kecil setingkat desa terus bermunculan. Bentuknya berupa perdikan (desa yang tidak mempunyai kewajiban membayar pajak kepada pemerintah penguasa), dan menjalankan sistem demokrasi desa. Di wilayah Mangir, Ki Ageng Mangir Wanabaya adalah penguasanya.
Periode Ki Ageng Mangir bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Demak (1478 M). Saat itu, pengaruh Islam juga menyebar ke kalangan rakyat jelata termasuk di Mangir. ”Saat memimpin wilayah Mangir, ia membantu pengungsian orang-orang dari Majapahit, yang saat itu mulai runtuh,” kata Basri, Ketua Paguyuban Soko Mangir Baru.
Tak jauh dari Mangir berdiri wilayah perdikan bernama Mataram di bawah kepemimpinan Ki Ageng Pamanahan. Ambisi Ki Ageng Pamanahan menguasai seluruh wilayah Mataram membuatnya bertekad menaklukkan Mangir. Namun, Ki Ageng Mangir menolak tunduk.
Ki Ageng Mangir mati di tangan Panembahan Senopati sewaktu menghadap bersama Sekar Pembayun (putri Ki Ageng Pamanahan). Sekar Pembayun menjadi pancingan untuk meluluhkan kerasnya hati Ki Ageng Mangir. Setelah itu, Ki Ageng Pamanahan menghancurkan kekuasaan Mangir. Pada 1581, Ki Ageng Pamanahan menguasai Mataram.
Menurut Basri, Ki Ageng Mangir adalah sosok pemimpin, pengayom, dan tempat bertanya bagi masyarakat Mangir. ”Sampai sekarang sikap keteguhan beliau masih kami pegang. Untuk menghargainya, kami telah mengukuhkan Mangir menjadi desa wisata,” katanya.
Sumber: cetak.kompas.com










Comments
RSS feed for comments to this post.