Rumah dinas Komandan Korem 073 Makutarama di Salatiga penuh selubung mitos. Ada begitu banyak "katanya". Misalnya, di bawah bangunan kolonial Belanda itu terdapat terowongan rahasia yang menghubungkan dengan Markas Satuan Lalu Lintas Polres Salatiga yang jaraknya sekitar 200 meter. Atau bahkan Rawa Pening, belasan kilometer dari sana.
Belum lagi ada yang menyebut kalau di salah satu ruang kosong di lantai bawah bangunan bergaya Renaissance itu terdapat kuburan Belanda. Berbagai mitos tumbuh subur karena selama puluhan tahun ruangan tak pernah dibuka. Tambahan pula, di lantai bawah rumah dinas itu memang terdapat sisi selatan tembok yang sedikit berbeda. Ada bercak lengkung di bagian tengahnya yang menyerupai bingkai pintu khas bangunan kuno. Ketika dipukul, gaung suaranya mengisyaratkan ada ruang kosong di balik tembok.
Rabu (13/1), berbagai mitos itu mulai terbongkar. Enam personel Korem mengayunkan godam membongkar tembok tipis yang menutupi pintu "rahasia" itu.
Komandan Korem Makutarama Kolonel Sakkan Tampubolon memantau langsung penelusuran itu, didampingi Kepala Seksi Intel Korem Letkol Era Hernanto yang menjadi koordinator pembongkaran. Beberapa personel Detasemen Zeni Bangunan juga dilibatkan. Sebelum pembongkaran, dilakukan doa bersama dipandu penasihat spiritual, Mbah Toha (63).
Tidak sampai setengah jam, pembongkaran itu rampung. Di dalamnya terdapat ruang kosong dengan ketinggian sekitar 3 meter. Sementara di sisi barat langsung dibatasi tembok, pada sisi timur ada jalan seperti lorong, tetapi pada jarak sekitar 4 meter sudah buntu tertutup tembok.
"Nanti akan dirapikan dulu sisa batu batanya supaya dasar ruang itu terlihat. Siapa tahu ada pintu di bagian bawahnya. Kami juga masih mencoba melihat satu lokasi lagi karena ada lantai yang sepertinya ada lubang di bawahnya," tutur Era Hernanto.
Rumah dinas Komandan Korem Makutarama itu diduga dibangun akhir abad ke-19 dan awalnya difungsikan sebagai asrama militer Belanda. Ciri arsitektur yang menonjol antara lain atap limasan dan jendela-jendela vertikal. Luas bangunan itu diperkirakan sekitar 500 meter persegi.
Bangunan utamanya terdiri atas tiga bagian. Lantai dasar memiliki beberapa ruang, termasuk sisa lubang bidik senapan di sisi tembok terluarnya. Sementara lantai dasar biasa dimanfaatkan sebagai ruang tamu dengan tangga menuju lantai dua berupa marmer putih. Pada lantai kedua terdapat jendelanya berbentuk setengah "V" dengan engsel berada di bagian atas.
Ada empat kamar dengan luas masing-masing cukup untuk menampung lebih dari empat tempat tidur. Kamar paling selatan memiliki pemandangan paling indah. Begitu jendela dibuka, tanpa halangan apa pun terpapar pemandangan Gunung Merbabu. Amboi nian....
Antony Lee
Sumber: http://cetak.kompas.com/










Comments
RSS feed for comments to this post.