Para pencinta keris di Yogyakarta sering bertemu untuk saling belajar memahami filosofi keris masing-masing yang mereka miliki. Ilmu tentang keris pun mereka dapatkan saat berkumpul dalam sebuah paguyuban. Melalui ajang paguyuban ini pula, pencinta keris bisa memperkuat kecintaan terhadap senjata khas tanah Jawa itu.
"Saya dulu tertarik ikut paguyuban Pametri Wiji karena ingin mempelajari secara benar," kata Wisben Antoro, seniman yang memiliki 40 keris dari berbagai tangguh (era), Kamis (25/2). Wisben mengakui diri sebagai "kolekdol" (koleksi untuk dijual). Ia memiliki keris tangguh Pajajaran dari abad ke-13. Kerisnya yang paling muda adalah tangguh Sultan Hamengku Buwono VII. Selain diberi, ia juga membeli. Sebelumnya, ia memiliki 100 keris, namun sebagian laku dijual.
Pametri Wiji
Sekali dalam sebulan, Pametri Wiji menggelar sarasehan menghadirkan narasumber pakar keris. Inilah ajang untuk belajar keris. Setiap anggota dan simpatisan membawa keris sendiri untuk didiskusikan bersama. Menurut Wisben, saat ini banyak anak muda ikut bersarasehan. Di antara mereka memiliki keris warisan orangtua.
"Semula pertanyaannya lucu-lucu, misalnya ada yang bertanya apakah keris miliknya itu ada "isi"nya? Atau kadang percaya kerisnya harus diberi makan apa? Ha...ha...ha...," tutur Wisben, yang menjadi Seksi Pameran Pametri Wiji.
Dari belajar bersama itu, Wisben mengaku menjadi tahu beberapa filosofi keris. Ia mencontohkan, setelah bergabung Pametri Wiji, baru tahu kalau deder (gagang keris) mengambil wujud janin bayi yang bermakna kelahiran.
Wisben mengaku kagum dengan teknologi pembuatan keris. Ia percaya, keris memiliki gelombang energi yang dapat memengaruhi orang di sekitarnya.
"Itu muncul dari penempaan yang terus-menerus. Jadi, keris itu bagaikan kalung magnet," katanya.
Penanda golongan
Keraton Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan di Yogyakarta juga terus melestarikan keris sebagai salah satu koleksi senjata keraton. Di kalangan abdi dalem keraton, keris menjadi penanda golongan atau pangkat yang diemban abdi dalem. Keris ini hanya boleh dikenakan abdi dalem dengan pangkat bekel ke atas.
Iwan, abdi dalem Keraton Yogyakarta, mengaku masih menyimpan keris sebagai warisan turun-temurun nenek moyangnya. Senjata keris dengan pamor udan mas itu hanya disimpan sebagai koleksi karena Iwan sama sekali tidak mengetahui cara perawatan dan kegunaannya selain ketika menghadiriresepsi dalam busana tradisional Jawa.
Meskipun demikian, keris sebagai warisan leluhur turun-temurun tetap ia jaga dan pelihara.
Sumber: http://cetak.kompas.com/










http://levitraexpresspharmacy.com uses for levitra generic drugs Levitra generic levitra 20mg isosor... readmore