Meski berusia uzur, kain batik di Museum Danar Hadi Solo tidak terlihat usang sedikit pun. Wajar saja sebab pengelola museum memberikan perlakuan khusus untuk merawat batik kuno itu. Guna mencegah organisme merusak kain, mereka menempatkan bulir merica yang dibungkus dalam kantung kain kasa, akar wangi, serta irisan daun kecubung. Mereka tidak pernah menggunakan kapur barus. “Uap kapur barus bisa merusak warna batik secara permanen,” kata pelaksana pengelola museum, Aryo Prakosa Vidyarto.
Untuk menghilangkan bau tidak sedap, mereka juga tidak pernah menggunakan pewangi dari bahan kimia. Pengelola museum memilih meramu pewangi ruangan alami dengan bahan bunga, irisan daun pandan, kencur, serta lengkuas. Sepekan sekali mereka menyalakan ratus.
Suhu ruangan diatur dengan penyejuk udara yang senantiasa menyala untuk menjaga kelembaban kain. Pengaturan suhu itu juga efektif untuk menghindari tumbuhnya jamur. Ruang pamer didesain tertutup rapat menghindarkan diri dari sinar matahari. Tiap helai kain batik dijaga betul kebersihannya dengan cara disikat dan dibersihkan dengan vacuum cleaner.
Perawatan koleksi serta bangunan museum itu tentunya menguras banyak biaya. Namun, pengelola hanya memberlakukan tiket masuk sebesar Rp 25 ribu untuk pengunjung umum dan Rp 15 ribu untuk pelajar. Meski menerapkan harga yang cukup bersahabat, toh justru wisatawan mancanegara yang sering singgah di museum itu.
Adapun pengunjung lokal yang datang biasanya merupakan rombongan. “Biasanya pelajar yang sedang darmawisata di saat liburan,” kata Aryo. Di hari biasa, sering museum itu sepi dari pengunjung. Selama berkeliling museum selama dua jam, Tempo hanya berjumpa dengan dua pengunjung, semuanya bule.
Museum tersebut merupakan salah satu bagian dari House of Danar Hadi, yaitu suatu integrasi dari pemiliknya atas museum dengan toko batik, gedung pertemuan, dan restoran di sebuah rumah kuno bernama Dalem Woeryonngratan seluas 400 meter persegi. Di bagian belakang, terdapat tempat produksi batik dengan pembuatan tradisional. Museum tersebut resmi didirikan pada 2000 lalu.
Menurut Danarsih, museum tersebut didirikan sebagai kepedulian terhadap peninggalan budaya berupa batik. Selain itu, mereka berharap generasi muda dapat mempelajari tentang perjalanan sejarah warisan budaya dunia itu. Suaminya, Santosa Doellah mengumpulkan koleksinya sejak 1967.
Sumber: tempointeraktif.com










http://buycialisgen.com/#2676 buy cialis india cialis price cialis ordering readmore