Memasuki ruangan berukuran 7x25 meter di gedung Taman Budaya Yogyakarta bak masuk ke negeri dongeng. Aneka permainan anak dengan rupa dan warna mencolok sungguh sejuk dipandang. Maka, tak heran, Merissia Sriagfantina Marsyanda, tujuh tahun, melompat-lompat kegirangan.
Puas bermain batok, mata siswa SD di Kota Kediri itu beralih ke permainan dakon. Ini sebuah permainan anak-anak perempuan dengan media batu, biji buah-buahan, atau kerang. Pemenangnya adalah mereka yang mengumpulkan biji buah atau kerang terbanyak. Bagi anak lelaki bisa mencoba memainkan aneka yoyo.
Segala permainan yang bisa dijajal ini dapat dengan mudah ditemukan di Museum Anak Kolong Tangga di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Setiap koleksi terselip cerita di dalamnya.
Contoh, permainan bekel yang biasa menjadi permainan remaja putri di
Indonesia, ternyata telah ada di Yunani dengan nama astroglei. Permainan ini juga ditemukan di Italia Selatan pada tahun 50 di Vila Pompei.
Permainan dakon, mobil-mobilan, bedil-bedilan dari berbagai negara,
yoyo, boneka koleksi dari berbagai dunia, merupakan koleksi yang bagi anak kecil sungguh menyenangkan. “Senang kesini, boneka dan mainannya banyak,” kata Merrisia.
Sayang, meski permainannya mencapai 6000 item koleksi dan bisa memanjakan mata serta mampu membuat anak-anak bermain dengan leluasa,
museum ini seperti gadis kesepian lantaran tak kunjung jua dipinang kekasih. Kecuali Merissia beserta adik dan ibundanya, tak terlihat ada pengunjung lain di museum itu.
Museum Anak Kolong tak seberuntung tetangganya, Taman Pintar, dengan pengunjung lebih dari satu juta orang. Padahal, jarak antar kedua museum itu hanya sekitar 50 meter saja. Museum ini hanya kadang-kadang diserbu sekolah yang sedang melakukan field trip ke museum. Namun, jika tak mendapat kunjungan sekolah, museum ini, ya seperti perempuan yang menunggu pinangan. Sepi.
Supriasih, petugas yang sudah 1,5 tahun bekerja di musem ini mengatakan seringkali museum tak ada pengunjung. Ketika tidak ada pengunjung, Asih biasa melakukan bersih-bersih dan menata letak koleksi. Sesekali ia menempel pamflet di pos satpam Taman Pintar yang letaknya berdampingan. Maksudnya agar pengunjung Taman Pintar bisa meneruskan ke Museum Anak.
Tentang sepinya pengunjung, Redi Kuswanto, Staf Humas Museum yang juga
Koordinator Even mempertanyakan komitmen orang tua terhadap budaya tradisional. “Apakah orang tua sudah tidak peduli dengan tradisi dan budaya melalui permainan anak-anak ya,” ujarnya.
----
Permainan anak, menurut Redi Kuswanto, banyak yang memberi filosofi baik untuk orang tua maupun anak. Sebagai contoh, hantu wewe gombel yang difigurkan tokoh jahat. Konon, kata Redi, wewe gombel akan mencuri anak yang diabaikan atau ditelantarkan oleh orang tuanya. “Jadi, pesan moral cerita wewe gombel itu, orang tua jangan abai dengan anak,” ujarnya.
Lain lagi dengan egrang. Permainan itu ternyata juga ditemukan di Italia pada zaman prasejarah. “Egrang itu muncul pada abad 16 dan berfilosofi tentang dunia anak-anak. Ini dari literatur sebuah buku,” kata Redi yang mendapat cerita itu dari Rudi Corens, seniman asal Belgia yang memprakarsai pendirian museum ini.
Museum Anak Kolong Tangga merupakan ide Rudi yang tinggal di Yogyakarta sejak 1991. Awalnya, ia prihatin menyaksikan mainan anak tradisional Indonesia yang kaya budaya dan memiliki keunikan di ambang kepunahan. Apalagi dengan membanjirnya mainan plastik. Dia pun lantas ingin membuat museum. “Yang dia mau bukan museum mati, tetapi museum hidup,” kata Redi. Museum hidup ini tetap melibatkan interaksi anak-anak. Maka, hampir tiap pekan museum ini mengadakan loka karya seperti mendongeng, membuat kerajinan tangan, dan sebagainya.
Ketika menawarkan ide ini, Rudi memiliki 900 koleksi permainan dari seluruh dunia. Nah, sejak diresmikan pada 2 Februari 2008, jumlah koleksinya kini menjadi 6000 item. “Banyak yang dari sumbangan berbagai orang di seluruh Indonesia,” katanya. Lantaran ruangannya tak mencukup semua koleksi, maka pajangan koleksi diganti setiap enam bulan sekali.
Permainan anak ini dikelola oleh Yayasan Dunia Damai yang kini kembang-kempis mencari dana untuk menyewa gedung sekretariat dan membayar pegawai, serta membayar biaya perawatan gedung. “Usaha apapun kami lakukan sampai menjual permainan anak ke pasar senggol Sunday Morning di UGM,” kata Redi.
Sumber: tempointeraktif.com










http://buycialisgen.com/#2676 buy cialis india cialis price cialis ordering readmore