Pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya hingga masa Kesultanan Palembang, Sungai Musi berperan vital sebagai nadi peradaban. Peran itu perlahan menghilang tergerus zaman. Perahu ketek, yang dulu hilir-mudik, makin sepi penumpang. Rumah rakit yang berjajar di tepi Musi dengan sejarah panjang itu satu per satu rusak dan terbengkalai tak terurus. Sebagian lenyap terseret arus Sungai Musi.
Cholil Yahmad bukan penduduk asli di rumah rakit Musi. Tetapi, sejak tinggal di salah satu rumah rakit di Tujuh Ulu, seberang Benteng Kuto Besak, Kota Palembang, tahun 1993, ia bertahan. Cholil tetap tegar meskipun penduduk asli justru meninggalkan aset sejarah kebudayaan Musi itu.
Namanya populer di kalangan pejabat Pemerintah Kota Palembang sampai ke tukang jasa perahu ketek di Musi. Cholil kerap menyuarakan pentingnya penyelamatan rumah rakit Musi. Berkali-kali Pemkot Palembang didesaknya memperbaiki rumah rakit yang tak terawat.
”Sudah 80 rumah yang kami daftarkan, dari (wilayah) 14 Ulu hingga Tiga Ulu. Rumah rakit ini cagar budaya, sudah semestinya mendapat perhatian pemerintah,” kata Ketua Koperasi Masyarakat Cinta Musi ini, akhir Februari lalu.
Berkat dorongannya, Pemkot Palembang lalu menggelontorkan dana untuk perbaikan rumah rakit, yang menurut catatan Kitab Ying-yai Sheng Lan dari China, sudah ada sejak abad ke-14. Anggaran yang disediakan Pemkot hanya Rp 2 miliar.
Menurut dia, keberadaan rumah rakit yang kini semuanya dicat warna hijau ini tak hanya penting guna menjaga sejarah di Musi, tetapi juga untuk sektor pariwisata. Rumah rakit Musi adalah salah satu daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Palembang.
Cholil memiliki sedikitnya tiga rumah rakit yang sebagian ditinggalkan kosong pemilik sebelumnya. Sebagian di antara rumah rakit itu dia perbaiki atas inisiatif dan biaya sendiri. Salah satu rumah rakit itu dibangun tahun 1891.
”Kami kesulitan memperbaiki karena sangat sulit mencari bahan bakunya. Kayu ulin yang ukuran panjangnya 12 meter kini sudah tak lagi dijual,” ujarnya.
Tragedi 1998
Tak ayal, rumah-rumah rakit yang pada puluhan tahun silam jumlahnya masih ratusan, kini hanya tersisa tak lebih dari 100. Rumah-rumah itu dulu ditempati warga Tionghoa keturunan. Namun, tragedi kerusuhan 1998 mengubah semuanya. Kekerasan rasial ikut merembet hingga tepi Musi. Para penduduk asli rumah rakit ini menjadi korbannya.
”Barang-barang mereka dijarah, kabarnya ada yang diperkosa pula. Oleh karena itu, sebagian dari mereka memilih pindah ke darat, ke wilayah ilir. Mereka trauma kembali ke sini,” ujar Cholil.
Dia juga tak mampu berbuat banyak untuk membendung gelombang aksi massa yang membabi buta itu. Hal yang bisa dia lakukan hanyalah menyelamatkan yang tersisa, yakni sejarah dan fungsi rumah rakit Musi.
Cholil mengajak sejumlah kerabatnya untuk tinggal di rumah rakit dan mencari nafkah dari tepi Musi. Rumah-rumah rakit ini diupayakan tetap dipertahankan fungsinya sebagai tempat aktivitas ekonomi, seperti warung dan kedai kopi.
Dulu, rumah rakit adalah aset yang berharga. Rumah rakit berada di posisi yang strategis dalam lalu lintas sungai. Rumah rakit berada di deretan paling depan, sedangkan rumah panggung yang ditinggali penduduk asli berada di belakangnya.
Cholil memiliki tiga kedai kopi terapung yang terkenal di seantero Palembang. Baginya, kedai kopi yang terbilang berhasil menarik perhatian wisatawan itu adalah pintu masuk untuk memperkenalkan kembali kejayaan kehidupan tepi Musi dengan tetap mempertahankan tradisi.
”Cita-cita saya adalah menghidupkan kembali wisata bahari di Musi,” ujarnya.
Selain menghidupi penduduk sekitar Musi—salah satunya tukang perahu ketek—tumbuhnya wisata bahari secara tak langsung dapat membuat sejarah kehidupan tepi Musi yang berusia ribuan tahun terus bertahan.
Maka, tahun 1997, saat muncul wacana relokasi permukiman di wilayah Tujuh Ulu, dia berada di baris terdepan untuk menentangnya. ”Kalau rumah di atas dihilangkan, otomatis kami yang di sini pun terkena,” ujar Cholil.
Proyek rehabilitasi water front city ini terus dibawa meskipun personel pemerintahan berganti. ”Namanya diganti menjadi Program Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh pada masa Gubernur Syahrial Oesman. Ini gagal, tetapi masih coba diteruskan pada masa gubernur yang baru (Alex Noordin),” ungkapnya bernada khawatir.
Menurut Cholil, upaya menghidupkan kembali wisata Musi, tak lantas bisa dilakukan dengan pendekatan kekuasaan dan modal. Masyarakat yang kehidupan sehari-harinya bergantung pada Musi harus diajak serta. Rumah rakit pun harus dipertahankan.
”Jangan seperti yang sudah-sudah, perahu wisata punya pemerintah, tetapi yang bekerja bukan orang sini. Ini lambat laun bisa mematikan kami,” ujarnya mengkritik program pengadaan transportasi perahu wisata yang dikelola Pemkot Palembang.
Sedimentasi
Menurut Cholil, tukang perahu ketek sekalipun sebetulnya memiliki kepedulian yang tinggi akan pentingnya wisata dan menjaga keasrian lingkungan Musi. Secara berkala Cholil dan para tukang perahu ketek binaannya, berinisiatif mengadakan kegiatan bersih-bersih sungai di tepi Musi.
Cholil membina sekitar 150 tukang perahu ketek di Musi. Koperasi yang dipimpinnya membantu permodalan dalam kepemilikan perahu ataupun mesinnya. Mereka juga diarahkan selalu menjaga keamanan dan kenyamanan pengguna jasa, khususnya wisatawan. Ini demi mendongkrak citra wisata Musi.
Kegiatan bersih-bersih sungai itu diharapkan bisa mengurangi beban ekologis yang melanda Musi. ”Sedimentasi di sungai ini terus bertambah, setidaknya 4 juta meter kubik dalam setahun,” kata Cholil prihatin dengan kecenderungan pendangkalan Musi.
Kerusakan ekologi dan pendangkalan inilah yang menjadi biang kerok banjir besar di sebagian wilayah Palembang awal Februari lalu. Cholil dan mayoritas warga yang tinggal di rumah rakit memang tak perlu khawatir akan banjir ini. Sebab, sebesar apa pun banjir, rumah mereka akan menyesuaikan dengan ketinggian air sungai.
Satu-satunya yang menjadi kekhawatiran Cholil adalah masyarakat bakal melupakan pentingnya keberadaan Musi dan sejarah kehidupan di sekitarnya. Jika ini terjadi, bukan hanya rumah-rumah rakit yang tenggelam dengan sendirinya, melainkan juga penghidupan sebagian masyarakat di sekitar Musi.
Yulvianus Harjono
Sumber: http://cetak.kompas.com/
Gambar:http://voters09.wordpress.com/










Comments
RSS feed for comments to this post.