Pada era sekarang, rasanya tidak banyak generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap sejarah dan budaya. Dari sekian banyak anak muda di Kota Palembang, Kemas Umar Jaya Negara (27) merupakan salah satu sosok yang berani tampil di depan publik ketika terjadi upaya pembelokan fakta sejarah di lingkup Kesultanan Palembang Darussalam.
Bersama kawan-kawannya di lembaga nonpemerintah Pemuda Kesultanan Palembang Darussalam (PKPD) dan didukung sejumlah sejarawan lokal, Kemas Umar berhasil menguak rencana pembelokan fakta sejarah Palembang yang dilakukan sejumlah oknum dengan cara merusak kompleks makam Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II dan mengganti batu nisan Sultan Ahmad Najamudin dengan nama Sultan Amiruddin.
Berkat peran dan kerja keras Umar melakukan investigasi di Kota Ternate, Maluku Utara, inilah, peristiwa perusakan makam cagar budaya itu bisa diketahui publik dan sekarang sedang dalam pengusutan polisi.
Menurut Umar, pertengahan tahun lalu diperoleh informasi bahwa terjadi perusakan makam SMB II. Meski belum melihat sendiri, hal ini dilaporkan ke Pemkot Palembang.
”Namun, setelah sekian bulan, tidak ada tindak lanjut pemerintah. Karena geram, saya putuskan berangkat ke Ternate,” katanya saat ditemui pada Selasa (1/12) di Palembang.
Dia berada di Ternate selama sepuluh hari, sejak 5-14 November 2009. Di lokasi, diperoleh fakta makam rusak di Sultan Ahmad Najamudin Pangeran Ratu, keturunan SMB II. Lokasinya persis di sayap kanan guba utama makam SMB II.
Melihat perusakan itu, Umar menanyakan kepada berbagai pihak, antara lain juru kunci dan Dinas Pariwisata Kebudayaan Kota Ternate. Kedua pihak juga kaget dan prihatin atas peristiwa ini. Mereka juga menegaskan pemugaran makam dan penggantian batu nisan itu dilakukan tanpa izin.
Selain melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dan Peraturan Pemerintah No 10/1993, tindakan itu digolongkan dalam pelanggaran pidana.
Selain berkategori perusakan aset cagar budaya, Umar berpendapat penggantian pusara makam merupakan upaya penyimpangan fakta sejarah. Alasannya, si pelaku mengubah identitas seorang tokoh sejarah tanpa melalui kajian ilmiah. Ini terkait dengan konflik perebutan gelar SMB III yang terjadi belakangan ini.
Meski belum ada tindak lanjut, Umar sudah melakukan gebrakan awal yang baik. Kecintaannya terhadap sejarah membuat Umar prihatin jika ada oknum yang ingin memalsukan fakta sejarah. (ONI)
Sumber: http://cetak.kompas.com/










http://levitraexpresspharmacy.com uses for levitra generic drugs Levitra generic levitra 20mg isosor... readmore