Kemas Ari merupakan salah satu warga Palembang yang memiliki kecintaan mendalam terhadap ilmu sejarah sejak muda. Hingga beranjak dewasa, dia tetap loyal dan berkomitmen untuk terus memajukan sejarah. Prinsipnya, sejarah merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat sehingga harus mendapat tempat layak dalam lembaga pendidikan formal ataupun nonformal.
Pria kelahiran Palembang, 16 September 1973, ini memiliki nama lengkap Kemas Abdul Rachman Panji. Sejak kecil Kemas Ari merupakan sapaan akrab pria lulusan program studi Ilmu Sejarah di FKIP Universitas Sriwijaya tersebut.
”Setelah lulus kuliah, saya berkarier sebagai seorang akademisi di Fakultas Adab IAIN Raden Fatah, Kota Palembang. Di tempat inilah pikiran saya mulai terbuka melalui bantuan dan bimbingan rekan-rekan seprofesi di kampus. Dampaknya, kecintaan terhadap ilmu sejarah pun semakin mendalam,” katanya, Kamis (17/12).
Berbagai kiprah
Kiprah Ari memajukan bidang sejarah ini terlihat dari keterlibatannya di berbagai organisasi profesi Kota Palembang. Organisasi yang masih aktif digelutinya, antara lain, Masyarakat Sejarah Indonesia Cabang Provinsi Sumatera Selatan dengan jabatan sekretaris, lalu terlibat sebagai pengurus harian di Asosiasi Masyarakat Adat Nusantara.
Sejak tahun 2000 Kemas Ari juga tercatat menjadi anggota dan pengurus di Lembaga Dewan Kesenian Sumsel dan menjadi pengurus Lembaga Budaya Komunitas Batanghari Sembilan atau kerap disebut Lembaga KOBAR 9, serta di berbagai organisasi sejarah lainnya.
”Jika ingin memajukan sejarah, syarat awalnya saya harus punya kiprah dulu, baik di lembaga pendidikan formal maupun organisasi profesi yang mendukung,” kata pria yang juga mengajar sebagai dosen tidak tetap mata kuliah sejarah di Universitas Sriwijaya tersebut.
Pengalaman Ari dalam mengajar sejarah juga tidak diragukan lagi. Sejak 1998 sampai sekarang Ari tercatat pernah mengajar di berbagai SMA di Kota Palembang, antara lain SMA Sumsel Jaya (1998-2000), SMA PGRI 1 (1999-2000), SMA PGRI 5 (1999-2000), SMA Pusri 2000-2004), SMA Bina Warga II (2006), dan Madrasah Aliyah Negeri I Kota Palembang (2007).
Melalui keterlibatan di sejumlah lembaga itulah Ari menuturkan, dia dapat membangun jaringan informasi dan komunitas pemerhati sejarah. Di sisi lain, Ari juga bisa menyumbangkan ide atau gagasan terhadap isu-isu sejarah skala nasional ataupun regional yang berkembang di era sekarang.
Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah terkait polemik perusakan kompleks makam Sultan Mahmud Badaruddin II. Meskipun telah dibantah bahwa Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin tidak bermaksud merusak, tetapi Ari berpendapat persoalan ini muncul karena ada konflik kepentingan antara dua sultan. Menurutnya, konflik ini jangan sampai berujung pada upaya pembelokan fakta sejarah.
Sumber: http://cetak.kompas.com/










http://levitraexpresspharmacy.com uses for levitra generic drugs Levitra generic levitra 20mg isosor... readmore