Kohar alias Tjoa Kok Lim adalah warga Palembang yang teguh menjaga prinsip tradisi. Sebagai generasi ke-13 marga Tjoa yang berasal dari China, pria berusia lanjut itu masih setia merawat dua bangunan bersejarah, rumah batu dan rumah kayu, di Kampung Kapitan, Kelurahan 7 Ulu, Seberang Ulu, Palembang.
Saat ditemui di bangunan rumah kayu Kampung Kapitan yang juga berfungsi sebagai kuil tersebut, Sabtu (20/2), Kohar sedang ditemani anak lelaki keempatnya. Meski Kohar sudah mulai sulit berbicara, aura dan semangat tinggi tetap terpancar dari raut mukanya.
Menurut Kohar, semua generasi marga Tjoa, termasuk dia dan anak-anaknya, memikul tugas leluhur yang tidak ringan, yakni menjaga dua rumah kayu dan rumah batu yang dibangun pada abad ke-16 tersebut. Pemantauan Kompas juga menunjukkan bahwa rumah kayu dan rumah batu secara umum dalam kondisi terawat.
Namun, beberapa bagian papan kayu juga sudah mulai lapuk. Menurut Kohar, hal tersulit merawat bangunan tua dan bernilai sejarah tinggi terkait dengan tingginya biaya perawatan. Karena itu, jika Pemerintah Kota Palembang masih menganggap Kampung Kapitan sebagai salah satu tujuan wisata Sungai Musi, Kohar berharap ada keterlibatan dari pemerintah.
”Wali Kota Palembang dan Gubernur Sumsel pernah datang ke Kampung Kapitan dengan menjanjikan bantuan uang untuk biaya perawatan. Sayangnya, sampai sekarang hal itu belum terealisasi,” katanya.
Kampung Kapitan yang dikenal sebagai permukiman komunitas etnik China asal China daratan di pinggir Sungai Musi itu saat ini sudah mulai kehilangan roh. Sejumlah kendala terkait ketidakmampuan warga merawat bangunan, diperparah banyaknya generasi muda setempat yang meninggalkan kampung halamannya dan merantau ke Jakarta.
Selain dua rumah utama, Kohar juga saat ini hanya ada 10 rumah di Kampung Kapitan yang masih dihuni keturunan marga Tjoa.
Berdasarkan informasi, seperti tertulis di foto dengan latar belakang tiga bangunan kuno, diungkapkan bahwa Kampung Kapitan zaman dahulu adalah tempat tinggal komunitas orang-orang yang berasal dari China. Di kampung ini terdapat tiga bangunan rumah peninggalan marga Tjoa berukuran 24 meter x 50 meter.
Bagi Kohar, rumah tua kayu yang sudah berusia 400 tahun itu tidak hanya bermakna sebagai tempat tinggal saja, tetapi sebagai tempat ibadah bagi umat Buddha yang berasal dari China.
Sumber: http://cetak.kompas.com/










http://levitraexpresspharmacy.com uses for levitra generic drugs Levitra generic levitra 20mg isosor... readmore