Lumajang adalah sebuah kabupaten yang unik, dimana wilayahnya yang didukung oleh potensi alam pegunungan yang Indah serta tanah yang subur. Kesuburan tanah di Lumajang tidak diragukan lagi karena Lumajang merupakan penghasil pertanian dan perkebunan terutama beras sehingga Lumajang dijuluki sebagai "Lumbung di Jawa Timur".
Wilayah yang dikelilingi kelompok Pegunungan Tengger yang meliputi Gunung Bromo, Pegunungan Jembangan, Gunung Semeru, Gunung Tarub-Lamongan, dan Gunung Buring serta di sebelah selatan dibatasi Samudera Indonesia.
Potensi alam pegunungan ini menjadikan Lumajang sejak dulu merupakan wilayah yang penting, karena Nusantara menganut kearifan lokal yaitu konsep kosmologi yaitu arah utara dan selatan atau arah gunung dan laut.
Konsep kepercayaan terhadap gunung berarti bersemakin tinggi semakin suci, sedangkan konsep kepercayaan terhadap laut berarti adanya dunia bawah atau dunia makhluk gaib. Kepercayaan terhadap gunung inilah yang membuat manusia membangun di daerah yang tinggi sehingga akan lebih dekat dengan "Sang Pencipta" . Oleh karena itu didaerah pegungungan banyak ditemukan bangunan peribadatan, sedangkan kepercayaan terhadap laut mempunyai arti bahwa semua makhluk diciptakan sama sehingga harus hidup selaras dan seimbang dengan alam sekitar. Oleh karena itu didaerah pantai banyak kita jumpai ritual dan upacara petik laut maupun larung sesaji.
Hal-hal seperti ini tidak banyak ketahui sampai akhirnya terjadinya kerusakan alam yang dilakukan oleh kita sebagai manusia, sehingga wajar saja apabila alam melakukan reaksi yang dahsyat seperti tsunami, banjir, badai, gunung meletus maupun gempa bumi.
Ironisnya banyaknya kerusakan dan kejahilan yang dilakukan oleh manusia merusak peninggalan-peninggalan yang merupakan bukti peradaban dan warisan budaya masa lampau, padahal apabila dilestarikan dan dikembangkan dapat menjadi pembelajaran tentang kehebatan nenek moyang kita.
Mengapa kita tidak pernah bangga terhadap peradaban bangsa sendiri, sehingga lebih bangga terhadap peradaban bangsa lain? Hal ini dapat dilihat pada Situs- situs di Kabupaten Lumajang yang telah banyak yang mengalami kerusakan bahkan hilang entah kemana. Situs-situs itu meliputi:
- Situs Candi Gedhong Putri, Desa Klopo Sawit, Kecamatan Candipuro Kerusakan yang terjadi pada situs ini disebabkan faktor alam yaitu karena aliran lahar dari Semeru dan perusakan oleh warga sekitar dengan merusak Lingga-Yoni serta pengambilan batu bata candi secara liar.
- Candi Gelisah Randu Agung, vandalisme seperti coretan tangan ke dinding candi yang tidak bertanggung jawab, pencurian dengan menggali ke dalam candi yang dikira terdapat harta karun yang terpendam sehingga merusak struktur bata bangunan dan pengambilan batu bata secara liar sehingga merusak bentuk candi.
- Kawasan Situs Biting, perluasan sawah dan perkebunan masyarakat sehingga struktur dinding benteng yang sedikit demi sedikit hilang, abrasi sungai yang semakin melebar sehingga merusak dinding benteng yang berada di bibir sungai, penggalian liar masyarakat dan perluasan pembangunan Perum Perumnas yang mengancam hancurnya dinding benteng dan areal Situs Benteng Biting.
Vandalis mengakibatkan suatu peninggalan masa lampau tidak memiliki makna dan nilai-nilai, padahal leluhur kita membuatnya dengan melakukan perenungan yang mendalam dan tidak asal-asalan. Oleh karena itu peninggalan purbakala memiliki nilai ideologi, nilai ekonomi sosial, nilai kesejarahan, nilai pendidikan dll.
Bagaimana sebenarnya masyarakat sekitar situs menjaga peninggalan yang sangat berharga itu selama ini?, Apa saja yang dilakukan Pemerintah terutama Pemerintah Daerah dan Dinas yang terkait serta instansi yang berwenang?, Apakah kita ingin sejarah budaya hanya menjadi "MITOS" belaka?. Hal ini bisa dimaklumi kalau kita sebagai bangsa yang tidak mengenal budayanya sendiri.
Hasil dari penelitian yang kami lakukan, ternyata masyarakat tidak pernah tahu akan peninggalan di wilayahnya. Misalnya saja ketika bertanya lokasi situs kepada penduduk Randu Agung, jawabannya cukup mengherankan, " Tidak salah tempat mbak mencari Candi di Randu Agung, cari saja di Jawa Tengah?" atau ada yang mengatakan " "Saya kira Sejarah Lumajang itu hanya sebuah Mitos karena buktinya sudah hancur".
Dengan mulai memperkenalkan ciri khas melalui sejarah budaya lokal, kita dapat menanamkan kearifan lokal bangsa sehingga generasi muda menjadi sadar akan kehebatan nenek moyang. Hal ini bukan berarti kita kembali ke masa lalu, tetapi mengambil hikmah dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dalam Al Qur'an disebutkan bahwa "Allah tidak akan mengubah suatu kaum apabila kaum tersebut tidak berusaha mengubahnya sendiri".
Oleh karena itu diharapkan segera dilakukan langkah-langkah penyelamatan dan perhatian agar tidak mengalami kerusakan semakin parah. Pemerintah Daerah, Dinas dan Instansi yang terkait bersama masyarakat dapat segera melakukan perlindungan dan pelestarian situs-situs di Lumajang sehingga sejarah kabupaten Lumajang tidak hanya dianggap sebagai mitos, tetapi memiliki cerita sejarah dan bukti peninggalan fisik yang menjadi kebanggaan bagi generasi mudanya.
Oleh: Aries Purwantiny, Ketua Lit.Bang. MPPM Timur
Sumber: suaranusantara.com










Comments
RSS feed for comments to this post.